tukang ojek itu begitu cerewet

hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!
hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!

Semua kejadian, apakah itu kejadian besar yang akan meluluhlantakkan semesta, ataupun hanya kejadian kecil seperti terketuknya pintu-pintu fikiran, tak akan bisa kita prediksi, bagaimanapun caranya.

Seperti saja, hari itu, matahari enggan bersolek di penggalahan, digantikan badai sejuta rintik, membuat semangat untuk ke sekolah semakin redup saja, sayup-sayup terdengar sang legenda chrisye bernyanyi badai pasti berlalu. Hei! Bahkan badai pun sekarang sudah bisa menstimulasi fatamorgana.

Siapa sangka, dengan keadaan seperti itu, dimana sudah pasti cuma segelintir orang dengan kepentingan yang teramat penting yang bisa keluar dan bersiap untuk kuyub. Siapa sangka dihari itu, ada sekeping pembelajaran tentang kehidupan, yang terlontar dari pita suara seseorang yang tak diduga…

***

Hari yang indah? Huh, mungkin orang yang berkata “indah” itu adalah orang yang punya pandangan berbeda dalam hal keindahan. Hari itu begitu buruk. Bukan hanya hujan, angin juga mengamuk. Atap aula sekolah juga terbuka, menghempas-hempas dengan  sebatang paku masih  menahannya pada badang aula. Seakan-akan bertepuk, mengiringi deru memekakkan sang angin.

Untungnya, matahari masih bernafsu untuk menampakkan diri. Bagus! Aku bisa keluar sekarang. Segeralah aku pergi ke taman bacaan, sekalian berkunjung ke rumah seorang teman .

***

Semua urusan rampung! Hebat! Tanpa disinggung badai. Hari yang hebat,  dan sebelum cuaca mempermainkanku, akupun pulang dengan terburu-buru. Tiba-tiba terlintas sebuah ide nyeleneh: bagaimana kalau naik ojek saja? Lebih praktis, nyaman pula…

Jadilah, seorang bapak-bapak yang beruntung, dapat giliran untuk mengantarkanku. Mulanya tak apa-apa. Hingga dia melihat sebuah kios bensin eceran: -1 liter rp.5000- sosok yang semula kukira pendiam, seketika berubah menjadi seorang bapak-bapak pengobrol ulung:

“kau tahu diak , zamanku dulu, kau bisa beli bensin dengan harga sepersepuluh dari harga sekarang… Aku juga heran. Begitu banyak penelitian, ilmuwan-ilmuwan hebat, mengapa tidak ada tercipta sebuah pengganti? Mengapa masih memakai bahan bakar kuno? Kau tahu diak? “.

Hmm.. Bukan cuma cerewet, ini adalah ocehan tingkat tinggi! Bahkan dalam standar seorang tukang ojek. Bukan cuma obrolan picisan tentang harga-harga yang naik.
Di sepanjang perjalanan kuhabiskan waktu dengan berfikir kagum. Hebat. Untuk kesan pertama, aku tahu bapak yang memboncengku bukanlah orang yang bodoh, bahkan dia masih sempat menganggap dirinya muda dengan memanggilku diak. Atau adik dalam bahasa indonesia.

Kekagumanku pun bertambah ketika aku melewati sebuah rumah yang atapnya terbakar sedikit, karena konslet pada kabel listriknya:

“kau tahu diak? Ini karena hari hujan, jadi terbakar. Sebenarnya sih, untuk rumah berbahan batu bata, tak akan terbakar, namun bagi rumah tipe rumah gadang seperti ini, bisa fatal! Ini karena rumah gadang terbuat dari kayu! Dan rasanya semua rumah di indonesia ini seperti itu! Padahal sekarang semua keluarga harus ada barang elektroniknya… Bagiku nih ya, kalau kau ingin bersanding dengan teknologi, tinggalkan rumah adat!”

Bukan cuma itu, dia juga banyak mengoceh tentang para pejuang-pejuang dulu, tentang perilaku masyarakat yang mulai liar, dan ocehan-ocehan berat lainnya yang sangat jarang dibicarakan tukang ojek .

Aku semakin yakin, bahwa orang ini adalah seorang sarjana yang tak jadi berkembang, namun tetap ada dengan semua kepiawaiannya tentang hidup dalam status seorang tukang ojek.

Hari berbadai, ternyata mengantarkanku pada suatu fakta, bahwa tukang ojek bukanlah tak mungkin menjadi tujuan sekeping pelajaran kehidupan yang menyebar ke seluruh penjuru…

20 Comments

  1. yap. jadi ingat pepatah jawa, don’t judge a book by the cover. :mrgreen:

    selamat sore, teman..

  2. kasihan.. kamu jadi sasaran curhatan si tukang ojek…

    tapi kamu masih mending, klo aku… naik ojek bukannya diajak ngobrol seputar negri ini, eh…. akunya malah… digodain samA tukang ojeknya. DITANYAIN dah punya pacar lah.. ,tinggal dimana lah,sekolah dimana lah….. (pake acara sok ngerayu lagi). BT

  3. oi . . teman sebangku

    betul juga memang ada segelintir orang yang berpakaian seperti orang tak berguna padahal sebenarnya dia mempunyai derajat tinggi dibalik baju tersebut

    dulu waktu saya keceil,saya pernah bertemu dengan tukang lontong yang bersama saya membahas internet keren kan:kucing_ngakak:

    tapi paragraf terakhir ndak keren kata-katanya ..:kucing_bosen:

    but so far is cool:kucing_mikir:

  4. banyak bacot tu tukang ojek

    tapi kenapa terasa sakit ya

    itu mungkin karna kata2nya benar dan gw nggak bisa mengungkirinya
    :kucing_tolong::kucing_tolong:

  5. Maaf, saya tidak mengerti tentang rumah gadang. Tapi jika untuk hidup dengan teknologi, bisakah kita membangun rumah gadang dari bahan yang sulit terbakar? Apakah rumah gadang harus terbuat dari kayu sehingga mudah terbakar?

  6. Alam takambang jadikan guru, begitu pesan inyiak kita Rif.
    Setiap yang ada di hadapan kita, bila kita bisa bijak membacanya, insya Allah akan jadi sebuah pembelajaran berharga buat kita.

    Meski ada yang saya tidak setuju dengan pandangan si tukang ojek, tapi sebagai sebuah petuah, patutlah kita cerna. Saya juga pernah dapat pembelajaran dari seorang pengamen: http://hardivizon.com/2008/03/12/belajar-dari-seorang-pengamen/

  7. Kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, Rif…
    Sama kayak komen Uda Vizon, bahkan dari seorang anak kecil pun kebijaksanaan bisa muncul… dan itu juga akan tergantung bagaiamana kita, sebagai pendengarnya, mengambil hikmah yang sebanyak-banyaknya…

    Tulisanmu menarik, Rif…

  8. “…. dan ocehan-ocehan berat lainnya yang sangat jarang dibicarakan tukang ojek … ”

    Mestinya dia merealisasikan apa yang dia “oceh” kan itu …

    sehingga dia tidak menjadi tukang ojek saja …
    or tepatnya … tidak menjadi tukang oceh saja …

    Salam saya

  9. bukankah banyak tukang ojek yang mahasiswa (di jakarta) mustinya cendekia dong….

    well pelajaran bisa diambil dari mana saja, di mana saja oleh siapa saja.

    EM

  10. setuju dengan Mbak Imelda, bahwa pelajaran dan pembelajaran bisa diambil dari mana saja dan dari siapa saja…

    Ah, aku nggak setuju kalau harus meninggalkan rumah adat hanya untuk menikmati teknologi maju..justru rumah adat itu tetap harus dipertahankan dan dilestarikan dong… warisan budaya kan?

  11. Ketika berlibur ke Bali, saya dan suami menyewa mobil beserta drivernya. Ternyata driver itu bekas pilot pesawat komersial yang terkena PHK waktu krismon tahun 1998. Pengetahuan dan wawasannya sangat luas, dan ia orang Bali asli yang tahu banyak tentang budaya Bali. Kami memperoleh pemandu yang sangat baik.

    Intinya, jangan meremehkan orang dari jenis pekerjaannya, karena bisa saja orang tersebut memiliki pengetahuan yang lebih banyak dari kita.

  12. Rumah gadang bisa dibikin dari yang bukan kayu kan…
    itu mngkin manfaat teknlogi, bisa membuat yg kurang lebih sama dengan bahan yg berbeda.:kucing_tersipu:

    pengganti bensin sih banyak, tapi lebih mahal.
    dan mungkin tujuannya bukan untuk pengiritan kali yah hehe.
    tapi untuk persiapan BB masa depan, hiks..:kucing_ampun2:

  13. Yang penting si tukang ojek bisa ngantar sampai tujuan..

  14. aih, sudah rindu sekali bundo dengan arif.. si pujangga dari langit timur.

    semua yang ada di sekeliling kita adalah guru, selama kita mau membuka mata hati.. arif juga guru bagi bundo!

  15. mantap bener dah tulisanya…

  16. don’t judge a book from it’s cover…gak lantas dia hanya tukang ojek tapi setelah dirimu selami ternyata dia punya banyak lebih dari sekedar tukang ojek kan?

    apa kabar de’ gimana disana? baik2 saja kah?

  17. hhahaha
    applouse for tukang ojek

  18. uda dicurhatin kaya gitu, ongkos ojeknya dikorting ga? hehehe

  19. yup..semoga bisa dijadikan pelajaran dan bahan perenungan…^^

  20. Tukang ojek yang nggak kuper. Nggak rugi kalau dijadikan langganan.
    Salam silaturahim dari Pekalongan.

Leave a Reply