Cerpen: Lingkaran merah

Selamat jalan Rahmi

8 Juli 1986

Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu.

***

Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga tidak melupakan hari bersejarah dimana kita bertemu, hari yang kelam, dimana gerimis mendera ditengah musim panas, ada yang salah dengan langit. Aku juga belum lupa ketika melihatmu menggigil kedinginan waktu itu. Air mataku mengalir, ketika kuingat saat kita berkenalan dan kupinjamkan sweaterku waktu itu. Saat itu, aku tahu, bahwa telah terukir lagi sebuah nama dalam memori batinku: Rahmi julia.

Kau tahu Rahmi, aku sangat merindukan hari-hari itu, dimana kepingan-kepingan hati kita sudah menyatu sedikit-demi-sedikit. Aku rindu berjalan berdua denganmu sepulang kuliah, aku rindu melewatkan minggu-minggu penuh kesibukan dengan kilauan senyummu, aku ingin merasakan kembali ketika kita berjalan, menghadap kerlingan matahari senja, yang kau balas dengan keindahanmu. Keindahanmu melebur dengan deburan ombak di pantai air manis ini, seakan semua keindahan ini adalah keindahan dari sisi dirimu yang lain,  nikmatilah ini Rahmi, tuhan melukiskannya untukmu.

Kau mulai menggeliat pelan masuk ke dalam kehidupanku sejak saat itu. Kau sejengkal-demi sejengkal telah terjun dalam usahaku mengait pencapaian-pencapaian hidup. Kau lebih dari sekedar pelita, Rahmi, kau tak akan tergantikan.

Masih ingatkah kau Rahmi? Saat-saat dimana kita menikmati senja sepulang kuliah? Derap langkah kita agaknya menggentarkan dunia, karena kulihat dunia menghening ketika kita berjalan beriringan, paling tidak, mungkin itu hanya ada dalam kepalaku. Aku masih bisa merapal-rapal kembali kata-kata manismu, seakan menstimulasi pikiranku agar bekerja lebih realistik, aku masih ingat senandung-senandung dari bibir tipismu itu, menambah satu jalan kehidupan lagi yang harus kutempuh: hidup selamanya denganmu.

Aku ingin menayangkan ulang memori dimana kita terikat pada suatu perjanjian, sebuah perjanjian sakral dimana hanya nyawa yang bisa mengirisnya. Aku bersyukur bisa menikahimu, kita telah banyak melewati waktu bersama, kita telah banyak mengail-ngail keindahan senja kedalam penglihatan kita. Kali ini aku ingin membalas senyum ramah sang fajar denganmu.

***

Aku tahu Rahmi, kau bukanlah tipe wanita yang mempunyai impian yang rendah, kau jelas tak ingin menjadi istri yang biasa, aku tahu itu dari sorot matamu, yang seakan-akan memaki-maki diriku, mendelik marah, mengapa aku terus membuat sang pemilik mata itu berdiam diri di rumah. Atau dari ucapan-ucapan cerdasmu, yang seakan mengisyaratkan: “bang, aku ingin melanjutkan kuliahku”. Atau dari sikapmu, membuatku merasa sangan sia-sia jika hidupmu hanya dihabiskan sebagai wanita yang biasa saja.

“bang, apakah aku boleh melanjutkan kuliahku?” di minggu pagi yang cerah, membuat secangkir teh hangat urung kuhirup.

“mengapa tidak? Kau tahu sayang? Aku sangat mendukung apapun yang rasanya bisa membuatmu menjadi lebih baik” ya, aku sangat mengerti itu Rahmi…

“namun apakah kau akan keberatan bang, jika aku akan mengambil pascasarjana di universitas indonesia?”

“kebetulan sekali Rahmi, aku juga akan dipindah kerjakan ke jakarta, insya allah dalam waktu dekta kita akan pindah ke jakarta”

Aku bersumpah, sedetik setelah ucapan itu, alam semesta seakan ada dalam matamu Rahmi…

***

Sudah tiga bulan, rasanya hidup di jakarta tidaklah ada masalah yang berarti, kau tetap menjalankan kuliahmu, dan aku pun terus berkelahi dengan pekerjaanku. Namun kau ingat Rahmi, kita tak pernah berniat melewatkan satu senja pun untuk kita tatapi keindahnnya. Kita tak pernah ingin mengacuhkan satu pagi pun tanpa membalas senyum sang fajar, hingga suatu hari mataku terpaku pada tinta merah yang kau goreskan pada kalender putih di ruang keluarga, kau lingkari, lalu kau tulis: 1 Juli 1985, ulang tahun pernikahan kita yang pertama.

“bang, alhamdulillah, kita telah melewati 360 hari paling rumit dalam hubungan rumah tangga, hari-hari yang berat, namun penuh oleh kesenangan yang membuai, semoga tahun-tahun kedepan keluarga kita semakin harmonis bang…”

Ya, Rahmi, semoga.

***

Mulai lagi tertata deretan hari-hari panjang yang kita jejaki, sudah hampir 2 tahun pula asmara kita beruntai-untai dalam tirai rumah tangga. Ada saat-saat aku terkadang merindukanmu bergitu dalam, dan mungkin aku akan mengalaminya sekali lagi. Kau berencana pergi dengan keluargamu ke Kuala lumpur, Malaysia. Untuk menghadiri pesta pernikahan sepupumu. “bang, ayo, ikutlah. Kita akan mencoba melihat bagaimana senyum senja di kuala lumpur kan?” sayang, maaf, ajakanmu waktu itu kutolak, ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan, lain kali mungkin.

Namun sayang, aku tak sadar, bahwa kali itu mungkin adalah kali terakhir aku bisa mengecup wajah indahmu…

***

8 Juli 1986

Hujan belum berhenti, masih setia menemaniku, kuletakkan selembar koran minggu lalu, tepat di sebelah kalender tahun lalu yang dilingkari tinta merah. Kalender yang bersebelahan dengan koran yang bertulisan:

Telah terjadi kecelakaan mobil di Kampung salak selatan, Kuala lumpu, Malaysia(1 Juli 1986). Hanya ada seorang korban, seorang wanita dari Sumatera barat, Indonesia. Bernama RAHMI JULIA.

Sungguh Rahmi, aku ingin melewatkan walaupun satu kali senja lagi bersamamu.

Arif –aurora- rahman

aurora@langittimur.com

http://www.langittimur.com

weleh-weleh…. lama tak update, aku jadi ingin membuat cerpen lagi.. namun yang ini sumpah cuma cerpen iseng-isengan… bikin cerpen tentang pasangan suami istri, namun aku saja belum punya siapa-siapa untuk menjadi pasangan… jadi, mohon maaf para pambaca kalau feeling nya kurang dapat. Maklum, yang menulis belum punya pasangan… hehehe….

24 Comments

  1. huahaha..
    akhirnya apdet juga inih blog..
    sudah cukup lama malangang

    huahaha

    ijin nyimak dulu gan..

    silahkan menyimak… diizinkan kok…

  2. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    :kucing_beku: Akhirnya bangun dari tidur…


    akhirnya… dari tidur yang panjang

  3. Hmm,, oke..

    cerpen ini sudah cukup sangat jelas menggambarkan selera fiksi anda..

    ending yang tragissss itu harus ada dalam hidup anda..

    huahahah

    keren cerpennya.. :)

    bagi saya kematian itu adalah sesuatu yang penuh dengan ekspresi… sangat baik untuk dijadikan fiksi.. trims!!

  4. siapa yg bilang feelingnya ga dapat?
    cerpen yang bagus, bang..

    salam
    Rahmi
    **wkwkwkkkk.. udah lama ga ketemu arief.

    hehehe.. baru nyadar kalau ada seseorang dengan nama yang serupa….

  5. akhirnya bangun dari masa hibernasimu rif:kucing_bobo:
    hmmm.. slalu ending dengan kematian, tapi justru itulah yg menarik pembaca.coba ambil ending yang berbeda, agar pembaca tak dapat menebak endingnya.

    jadi arif blum mendapatkan psngan?hhi. mau d carikan??
    hohohohoho::kucing_ngakak:


    tak usah lah o… saya takut, nanti terjadi hal yang tak diinginkan pada diri saya… sheo kan orangnya iseng,,, hehehe

  6. bukannya anda sudah punya pasangan ???
    terus manusia yang bernama rahman itu mau diapakan ?


    danu, Rahman itu adalah nama belakang saya!!!

  7. Feelingnya belum dapat saja sudah bisa membuat cerpen seperti ini …

    Bagaimana nanti kalau sudah dapat feeling nya …

    :) :kucing_suneo:

  8. waw….

    cerpen yang sungguh mengharukan…

    entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tersirat dalam cerpen ini..!

    lanjutkan terus menulismu nak,..! (sok tua):kucing_tob:

  9. huhuhu ga hepi ending… :kucing_begadang:

  10. Wow hehehehe, ternyata ini dia yang diceritakan…GREAT rif, tinggal disambung aja tuh, klimaksnya dapatin, pasti OK bgt…, asal kamu bisa semangat hayo lanjutkan…………..

  11. laahhh kok sedih mlulu siih kalo bikin cerpen?? :-?

  12. mantaaap,..

    sayang gak hepi ending :kucing_begadang:

    top markotop :kucing_tob: :kucing_tob:

    mantap cerpennya :kucing_kagum:

  13. Aha… jadi, Rahmi Julia tho namanya? Padahal, Asmidar Tanjung gak kalah kerennya lho, hahaha…. (ssssttt… yang ini hanya rahasia kita saja ya Rif) ;)

    Ada tiga hal (Om Nh mode : ON)

    #1, Feel-nya sesungguhnya sudah dapat. Hanya saja, kalau memang begitu jalan ceritanya, mengapa harus mengambil setting waktu tahun 1985-86? Sepertinya, tidak ada korelasi antara setting waktu dan jalan cerita. Bila diganti dengan tahun 2009-2010, jalan cerita tak berubah. Barangkali, ada baiknya untuk menggambarkan suasana tahun 80-an itu, ada sedikit deskripsi tentang tempat kejadian yang hanya ada pada tahun tersebut.

    #2, Karena ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, maka ada baiknya tata aturan tanda baca, huruf kapital, dsb diperhatikan ya Om… :D

    #3, Segera tulis kelanjutannya…. :kucing_suneo:

  14. lama nggak main ke sini…
    cerpenmu bagus Rif…lain kali bikin yang ceria dong….
    pasti nggak akan kalah bagus juga deh…

  15. tetap keren ceritanya walo blm punya pasangan
    bahkan yg punya pasangan sekalipun belum tentu bisa bikin cerita keren kaya gini

  16. haaaaaaaaaa…..knapa cerpen yang kau buat tokohnya pada mati semuaa??

  17. lama g update..
    cerpen nya bagus bozz..
    maju truss..
    @proton : aurora suka yang tragis”

  18. klo cerpen baca di kompi atau laptop suka pusing …
    gak kuat konsen lama2 gt :)

  19. Lagi – lagi dia mati dengan tragis aurora jadi rada tragis juga :p

    :kucing_ampun2:

  20. Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    kerennnnn
    :kucing_ngakak::kucing_ngakak::kucing_ngakak:

  21. wew…Arif bsa kukatakan kata2mu indah, jadi walaupun katamu blom dapet feelingnya tetep aja ini cerpen bagus…

    keep writing ya rif ;)

  22. UHUYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY

    cuma satu yang aku mau bilang:
    berlatih saja terus! Pasti jadi penulis deh

    (Dan perhatikan tanda baca dan huruf kapital ya dek)

    EM

  23. koko jotie.. |

    nice artikel,,,,lanjutkan gannnn

Leave a Reply