<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eastern Sky Area</title>
	<atom:link href="http://www.langittimur.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.langittimur.com</link>
	<description>Mencoba Menerka, Ke Langit Yang Mana Angin Akan Bermuara</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Apr 2010 21:27:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Untuk senandung, kita beda, kawan&#8230;</title>
		<link>http://www.langittimur.com/untuk-senandung-kita-beda-kawan.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/untuk-senandung-kita-beda-kawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 21:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Lantunan lagu-lagu norak itu masih senantiasa menggantung di daun telingaku. Inilah salah satu hal yang membuatku kehilangan ketertarikan untuk menonton TV: acaranya mulai didominasi oleh acara-acara musik terbaru yang kebanyakan NORAK SANGAT. Musik. Bukanlah sekedar hiburan bagiku. Bagiku musik adalah hal yang mistis, yang entah kenapa bisa saja mengikuti atau mengubah suasana hati. Aku memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_533" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/04/IMG_43991.jpg"><img class="size-full wp-image-533" title="IMG_4399" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/04/IMG_43991.jpg" alt="" width="500" /></a><p class="wp-caption-text">-_-</p></div>
<p>Lantunan lagu-lagu norak itu masih senantiasa menggantung di daun telingaku. Inilah salah satu hal yang membuatku kehilangan ketertarikan untuk menonton TV: acaranya mulai didominasi oleh acara-acara musik terbaru yang kebanyakan NORAK SANGAT.</p>
<p><span id="more-530"></span>Musik. Bukanlah sekedar hiburan bagiku. Bagiku musik adalah hal yang mistis, yang entah kenapa bisa saja mengikuti atau mengubah suasana hati. Aku memang bukan orang yang paham soal musik, namun yakinlah, aku sangat mengerti sekali musik apa yang bisa cocok dengan jalan pikiranku. Mulai dari musik, lirik, makna, haruslah bisa menyentuh hati. Dan unsur-unsur lagu yang bisa menyentuh hati tentulah musik yang diciptakan dari hati, bukan royalti.</p>
<p>Mari izinkan dulu aku curhat sedikit. rasanya sudah cukup aku menyimpan fakta ini sendiri, seiring kernyitan dahi orang-orang melihat playlist lagu di laptopku, sejalan dengan setiap pertanyaan orang-orang â€œitu lagu apa?? Jaman nenek gua yah??â€ . Yah. Akulah pecinta lagu-lagu klasik, yang sekarang berubah naman menjadi â€œkunoâ€.</p>
<p>Cobalah para teman-teman blogger jika (mudah-mudahan) kita kopdar nanti, silahkan lihat playlist winampku. Jangan harap akan mendapatkan lagu-lagu trend anak muda sekarang. Anda akan mendapatkan pemandangan seakan-akan kakekku lah yang sepenuhnya memakai winamp di laptop ini. Jangan harapkan lagu-lagu sesuai dengan tangga lagu terkini akan hadir terpampang disini. Anda hanya akan mendapatkan lagu-lagu jaman orang masih berhubungan dengan menulis surat. Mulai dari lagu-lagu ringan seperti â€œFeelingsâ€-nya Morris Albert, â€œCanâ€™t smile without youâ€-nya Barry Manilow, lalu mungkin semakin kebawah, lirik lagunya mungkin sedikit menjadi agak berat. Seperti â€œI donâ€™t wanna talk about itâ€-nya rod steward, lalu koleksi lagu Ebiet G Ade, dan semakin ke ujung, akan lebih berat, seperti koleksinya Scorpions juga seperti lagunya Joan Baez.</p>
<p>Tolong jangan ada yang keberatan jika aku berlagak seperti pengamat musik disini. Bukan apa-apa, ini hanya karena aku berhak berkomentar sebagai pendengar(walau tidak sering), tak usah di media massa, cukup di langit tercinta ini saja.</p>
<p>Menurutku kualitas musik di jagad melodi Indonesia sudah mulai menuju kebobrokan, seiring dengan berjalannya waktu dan bertukarnya gaya hidup masyarakat. Menurut pendapat pribadiku, proses pe-reduksi-an kualitas ini disebabkan oleh bertumbuhnya beberapa gaya masyarakat baru: â€œRing Back Toneâ€, siaran lagu-lagu terkini, dan lain-lain. Inilah yang mungkin memiliki peran penting dalam perubahan kualitas, yang jelas diakibatkan oleh bertukarnya motivasi para pemusik. Yang mana dahulu dalam berkarya dengan niat menghibur(dan tak lepas pula mencari nafkah) , telah bertukar manjadi mendapatkan RBT terbanyak, penjualan album sekian juta copy, atau hanya ingin jadi terkenal. Dan tentu saja semuanya tidak bisa didapatkan dalam suatu siklus saja. Tentunya mereka juga dituntut untuk menyambung terus karya mereka dengan menelurkan album secara teratur, yang otomatis menciptakan sebuah deadline. Dan tentu saja sesuatu yang diciptakan tergesa-gesa dikejar garis mati, akan menjadi karya yang harus dibuang ke keranjang sampah.</p>
<p>Mungkin ada lusinan teori lagi diluar sana tentang penurunan kualitas ini, seperti kurangnya objek inspirasi (seperti cinta melulu) dan lain-lain, namun pada tulisan ini mungkin hanya satu teori diatas yang bisa aku beberkan.</p>
<p>Terakhir, tulisan ini murni opini, no offense buat teman-teman blogger yang up-to-date pada musik. Bagi yang selalu mengikuti perkembangan musik, mari sama-sama berharap kualitas musik akan terus meningkat. Bagi para pecinta lagu-lagu lama, silahkan sharing lagu-lagu â€œklasikâ€ kesukaannya di kolom komentar.</p>
<p>Mungkin untuk kehidupan aku bisa mengikuti zaman. Namun untuk musik, biar kuseret telinga ini ke masa-masa kemarin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/untuk-senandung-kita-beda-kawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Segenggam rindu di gerbong terakhir</title>
		<link>http://www.langittimur.com/cerpen-segenggam-rindu-di-gerbong-terakhir.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/cerpen-segenggam-rindu-di-gerbong-terakhir.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 00:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[Besi besar ini baru bergerak sejengkal, namun pikiranku sudah melalang ribuan kilo. Aku baru saja menduduki kursi diÂ  kompartemen berdebu ini, diatas kereta tua yang akan membawaku entah ke bumi yang mana. Lagipula mana aku peduli? Aku hanya ingin pulang. Aku tak bisa lagi menahan denyut-denyut kerinduan ini, yang semakin berdenyut, terasa semakin perih. AkuÂ  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_524" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/04/train.jpg"><img class="size-full wp-image-524" title="train" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/04/train.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">on the last wagon....</p></div>
<p>Besi besar ini baru bergerak sejengkal, namun pikiranku sudah melalang ribuan kilo. Aku baru saja menduduki kursi diÂ  kompartemen berdebu ini, diatas kereta tua yang akan membawaku entah ke bumi yang mana. Lagipula mana aku peduli? Aku hanya ingin pulang.</p>
<p>Aku tak bisa lagi menahan denyut-denyut kerinduan ini, yang semakin berdenyut, terasa semakin perih. AkuÂ  rindu pada tempatÂ  yang bahkan tak lagi bisa kugambarkan di kepala ini. Kerinduan pada tempat yang sangat jauh adalah hal yang biasa. Namun berpulang kesana dengan tangan hampa adalah hal konyol.</p>
<p><span id="more-525"></span>Cakrawala mulai menjingga, seakan acuh pada apapun yang sedang kuolah di kepala ini. Aku akan meninggalkan tempat hidupku demi suatu kenangan yang tergantung di ujung sana, tempat masa kecil kuhabiskan, tempat yang sangat jauh, seakan-akan dia dinaungi oleh langit yang berbeda, tempat dimana atap-atap rumah sanggup menikam langit, dimana orang mengeruk tanah di betis gunung: Minangkabau.</p>
<p>Seketika aku merasa bodoh, ingin segera kutarik kembali gerbong-gerbong ini ke peron tempat mereka berasal, andai aku bisa. Biar terlambat, namun tetap kucoba untuk berpikir lebih matang. Aku bukanlah orang gagal. Mengapa aku harus kembali ke tanah kelahiranku sebagai perantau yang terpecundangi? Namun kucoba untuk menekur sekali detik lagi. â€œAku sangat rindu tempat ituâ€. Aku rindu dengan segala hal yang terjadi disana, aku rindu dengan segala yang dibisikkan angin disana. Aku rindu Bukittinggi.</p>
<p>Roda kereta mulai berdecit, dan aku yakin, demi inggris raya dan semua orang yang memijakinya, stasiun berikutnya masih 2 jam perjalanan lagi. Sekarang giliranku untuk tidak peduli, lagipula ini akan memberiku waktu tambahan walaupun untuk sekedar menghayal dan mengail-ngail kenangan akan tempat yang kutuju sekarang. Â Aku masih ingat ketika ibuku mengatakan bahwa adalah suatu hal konyol jika merantau ke Eropa, â€œ<em>Waâ€™ang</em> jangan coba-coba untuk bertindak melenceng dari kebiasaan. Merantau jangan jauh-jauh!Â  Tiru saja <em>Uda</em>-mu yang merantau ke Malaysia hidupnya makmur dan bisa pulang teratur!!Â  â€œ. Namun aku tau kalau ibuku adalah orang yang mempunyai ilmu agama yang kuat, kurasa aku bisa membujuknya. â€œTapi bu, nabi Muhammad saja menyuruh kita menuntut ilmu sampai ke negeri china. Jika di negeri china saja dianjurkan oleh rasul kita, apalagi ke inggris raya??â€. Tak ada yang tahu, malam itu juga ibuku membuka atlas dan membuka peta eropaâ€¦</p>
<p>Aku coba kembali mengapung ke alam sadar, kulihat seseorang di seberang kursiku, seseorang dengan kumis yang tebal. Tampangnya mencurigakan. Sekelabat kulihat ada sesuatu yang mengkilat di tali pinggangnya. Ingin aku menyapa, tapi sekarang bukan saatnya untuk bersikap sebagai teman. Aku lebih suka tenggelam kembali ke lamunanku. Aku memang orang yang acuh.</p>
<p>Aku juga ingat ketika kepingan angan untuk pergi ke eropa seakan gugur pelahan, saat aku mendengar kalau sawah keluargaku gagal panen karena hujan yang terus-menerus. Ingin rasanya kuhirup semua awan mendung yang mendatangi bukittinggi, ingin ku berteriak â€œjangan kau tetesi satupun airmu di tanah leluhurku! Tidak sekarang!!â€. Namun seminggu kemudian aku bersumpah tidak akan lagi mengutuk langit, ketika brosur beasiswa ke eropa berada 3 inchi didepan hidungku, tepat 3 bulan sebelum pertama kali aku menginjak ubin universitas di inggris raya.</p>
<p>***</p>
<p>Aku tersentak! Serentak dengan kereta ini, kereta yang mulai kembali berjalanâ€¦. Namun diluar kulihat siluet manusia-manusia yang sedang menaiki kereta. Belum sedetik aku berusaha untuk berpikir, sebilah pisau sudah berada di leherku. â€œkumpulkan semua barang berharga kalian!!â€ aku mengernyit. Banyak orang asing yang tiba-tiba memenuhi gerbong ini, orang-orang dengan suara berat dan menjijikkan, pembajak kereta!</p>
<p>Tiba-tiba orang yang diseberangku tadi berdiri, mengacungkan benda mengkilap yang tadi ada di tali pinggangnya, tampak jelas bahwa itu adalah pistol revolver klasik. Dia lalu menembak orang yang menodongku dengan pisau, dan mengenai tepat di tangannya. Aku tak tersentak, aku merasakan sesuatu, sesuatu yang tak bisa kukatakan seperti apa rasa atau kelihatannya, namun apapun itu, paastinya bukan perihal yang baik.</p>
<p>Tubuhku belum ada yang terluka, namun pandanganku sudah seperti orang yang koma. Apa yang terjadi, hanya bisa kulihat dalam gerakan lamban yang samar. Penodong yang kalap lalu mengayunkan pisaunya, dari leher dan menusukkannya tepat di dadaku, dada yang sesak menyimpan rindu pada suatu tempat di kaki gunung, suatu tempat di naungan langit berawan, suatu tempat yang mungkin sampai akhir hidupku hanya akan menjadi kenangan, juga impian.</p>
<p>Penumpang yang lain mulai berteriak. Cerobong lokomotif juga sudah melengking. Darahku bercucuran, terpompa oleh jantungku yang semakin lama semakin tak bisa kudengarkan detaknya. Biarlah nanti aku melihat tempat itu dari atas sanaâ€¦</p>
<p>Uap lokomotif masih melengking. Dan aku bersumpah, entah di lengkingan yang mana, kulihat bukittinggi di cakrawala.</p>
<blockquote><p>Padang, 12 Mei 2010</p>
<p>Arif -aurora- rahman</p>
<p>aurora@langittimur.com</p>
<p>http://www.langittimur.com</p></blockquote>
<p>Akhirnya sebuah cerpen lagi terlahir. Biar agak ragu, namun toh aku post juga&#8230; Mohon maaf jika ada yang kurang dari cerpen ini, karena ada beberapa masalah(yang dikambinghitamkan.. hehe):</p>
<p>1. Kurang cukup inspirasi.</p>
<p>2. Menulisnya agak tergesa-gesa.</p>
<p>3. Ditulis disela-sela membaca buku fisika(jarang kukerjakan yang beginian).</p>
<p>4. Mungkin tak ada hubungannya, namun buku fisika nya aku kepit di ketiak(banyangkan keadaannya&#8230;)</p>
<p>Mungkin cukup segitu dulu&#8230;. semua kritik dan saran dibuka di kotak komentar. Satu lagi, pesan moral dari cerpen diatas:</p>
<blockquote><p>Para perantau, segeralah pulang.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/cerpen-segenggam-rindu-di-gerbong-terakhir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahkan akupun heran</title>
		<link>http://www.langittimur.com/bahkan-akupun-heran.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/bahkan-akupun-heran.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 15:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang merinding mendengar beberapa bait kata yang beliau lontarkan, atmosfer kelas seakan berbalik, dari cerah menawan menjadi gelap mengancam. Semua kegirangan karena berita liburan, seakan terbungkam hanya dengan satu kali perkataan â€œkita libur karena kakak kelas kita melaksanakan UNâ€. Sebuah kalimat yang menakutkan, walaupun kami masih mempunyai waktu satu tahun lagi untuk menghadapinya, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_514" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/03/jurnal.jpg"><img class="size-medium wp-image-514" title="jurnal" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/03/jurnal-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">menunggu untuk datang ke tempat ini... kembali.</p></div>
<p>Semua orang merinding mendengar beberapa bait kata yang beliau lontarkan, atmosfer kelas seakan berbalik, dari cerah menawan menjadi gelap mengancam. Semua kegirangan karena berita liburan, seakan terbungkam hanya dengan satu kali perkataan â€œkita libur karena kakak kelas kita melaksanakan UNâ€. Sebuah kalimat yang menakutkan, walaupun kami masih mempunyai waktu satu tahun lagi untuk menghadapinya, namun tetap saja, UN masih terdengar menakutkan bagi kami.</p>
<p><span id="more-513"></span></p>
<p>Namun tak ada rasanya yang lebih ketakutan jika dibandingkan dengan mimik wajah kakak kelasku di seluruh Indonesia. Sungguh, rasa takut mereka seakan menyebar, membuat beberapa kalangan menjadi ikut takut, yang mana seharusnya anteng-anteng saja. Namun yah, ini liburan, segigih apapun para guru meyakinkan kami bahwa ini hanyalah â€belajar di rumahâ€.</p>
<p>Akhirnya aku menjalani liburan dengan teman-teman. Menjalankannya dengan terlalu menyenangkan, hingga larut dalam liburan itu sendiri, mungkin itu jugalah penyebab aku dengan biadab tidak melirik blog tercinta ini, langit yang cerah, sang junjungan aurora, maafkan aku langittimur. Aku memang tipikal orang yang jika sudah terlarut dalam sesuatu, maka akan sulit mengendap kembali. Aku terlalu terbuai dalam liburan ini, hingga melupakan betapa cemasnya kakak kelas ketika menghadapi tantangan negara, aku juga sampai melupakan langittimur.</p>
<p>Aku sangat menikmati liburan ini, namun ternyata menikmati sesuatu itu juga ada batasnya, sekarang aku sudah jenuh, aku bagaikan air keruh bercampur ampas teh didasar gelas, yang dibuang sayang, diminum tak enak. Apapun yang ingin kulakukan, rasanya tidak mood. Sudah berkali-kali aku dicerca pertanyaan-pertanyaan dari teman dan pembaca, apa ada yang salah dengan langittimur yang sudah seperti langit mati. Karena itu aku mencoba menulis beberapa tulisan yang agak serius, namun hasilnya gugur. Tulisan yang kubuat adalah tulisan rendah yang seharusnya diremuk lalu dibuang ke perapian. Efek libur ternyata hampir sama dengan kejenuhanmu ketika sekolah.</p>
<p>Aku sendiri heran, aku kesal harus mengakui ini, namun harus: Aku rindu sekolah. Kembali hidup normal mungkin bisa membuat naluri menulisku kembali layak&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/bahkan-akupun-heran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rintihan kala malam</title>
		<link>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 11:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Siapa itu yang merintih? Kuntilanak? Bukan! Anjing tetangga?? Bukan!! Nenek-nenek yang jari telunjuk kirinya sakit? Hampir tepat!! Namun Â dalam kasus ini, pemerannya adalah blogger 16 tahun. Ya, aku sedang sakit, memang bukan sakit yang parah bagi kebanyakan orang. Namun, siapa yang bisa memberikan tolak ukur apa yang disebut â€œparahâ€ itu?? Parahnya sebuah penyakit itu relatif! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_503" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/medicine.jpg"><img class="size-medium wp-image-503" title="medicine" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/medicine-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Obat. makanan akhir-akhir ini...</p></div>
<p>Siapa itu yang merintih? Kuntilanak? Bukan! Anjing tetangga?? Bukan!! Nenek-nenek yang jari telunjuk kirinya sakit? Hampir tepat!! Namun Â dalam kasus ini, pemerannya adalah blogger 16 tahun.</p>
<p><span id="more-500"></span></p>
<p>Ya, aku sedang sakit, memang bukan sakit yang parah bagi kebanyakan orang. Namun, siapa yang bisa memberikan tolak ukur apa yang disebut â€œparahâ€ itu?? Parahnya sebuah penyakit itu relatif! Tak bisa diukurâ€¦ mungkin bagi sebagian orang sakitku mungkin hanya penyakit kecil, namun ini cukup bagiku untuk mengganti dengkur kenikmatan dengan rintihan-rintihan pilu.</p>
<p>Oke, cukuplah basa-basinya. Aku akan memberitahukan penyakitku. Penyakit yang kuvonis sendiri dengan penelitian sendiri pula. Penyakitku adalah dua penyakit enteng yang bergabung menjadi penyakit yang bisa membuatku mangap-mangap. Dua penyakit itu adalah:</p>
<ol>
<li>kuku ku mengalami apa yang disebut kak      Nana sebagai <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2010/01/09/kedagingen/" target="_blank">kedagingen</a></li>
<li>FLU. Oleh-oleh dari angin muson barat      dari Australia      (ini penyakit impor)</li>
</ol>
<p>Hmmâ€¦. Sejauh ini mereka berkolaborasi dengan sangat bagus. Membuatku merintih sekaligus sesak napas. Salut buat tuhan!!</p>
<p>Mungkin efek sakitnya sudah mulai membuat muak. Namun ada beberapa efek yang membuat penyakit ini semakin biadab. Berhubung penyakit ini tak begitu dianggap serius, maka ini tak terlalu mencuri perhatian khusus bagi orang tua. Lihat tulisanku <a href="http://www.langittimur.com/ketika-blogger-sakit.html" target="_blank">yang ini</a> dan anda akan segera tahu kalau aku sangat ingin sakit sekaligus alasannya.</p>
<p>Satu efek lagi: aku tak bisa mengambil bonus bolos dari penyakit yang tanggung-tanggung iniâ€¦.</p>
<p>Namun tak apalah sakit sedikitâ€¦ kapan lagi kita bisa menghargai apa yang itu disebut â€œkesehatanâ€??</p>
<blockquote><p>Fiuuhâ€¦ maaf bagi para pembaca LT jika aku belum bisa membuat tulisan yang agak serius. Coba scroll ke atas, pasti akan ketemu alasannya: Aku sakit!. Pesan dari langittimur: sekarang musim pancaroba. Hujan dan panas kadang datang seenak udel mereka. Banyak penyakit enteng yang kadang lumayan menyebalkan akan menhampiri kita. Mulai dari yang elit seperti alergi serbuk bunga, hingga yang konvensional seperti kudis, kurap, dan kutu air. Jangan tunggu sakit untuk menghargai sang kesehatan!!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin berbalik kembali</title>
		<link>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 17:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Andai hidup memiliki tombol rewind. Aku akan perbaiki masa taman kanak-kanakku yang tak pernah kuselesaikan, akan kupukuli semua anak nakal yang menggangguku, akan kudapatkan nilai A+ di semua prakarya sekolahku. Andai hidup memiliki tombol rewind. Akan kupelajari apa yang sampai sekarang tak pernah kutahu. Akan kucari apa yang belum pernah kudapat, akan kubayar semua hutang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_494" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/berputar1.jpg"><img class="size-medium wp-image-494" title="berputar" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/berputar1-300x299.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">berputar... berbalik kembali...</p></div>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan perbaiki masa taman kanak-kanakku yang tak pernah kuselesaikan, akan kupukuli semua anak nakal yang menggangguku, akan kudapatkan nilai A+ di semua prakarya sekolahku.</p>
<p><span id="more-492"></span><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Akan kupelajari apa yang sampai sekarang tak pernah kutahu. Akan kucari apa yang belum pernah kudapat, akan kubayar semua hutang yang tak pernah terlunasi.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Tak satupun puasa yang kutinggalkan, tak satupun shalat yang kulalaikan, akan kulunasi semua hutang, akan kumaafkan semua teman, dan maafpun akan kutagih dari sebagian mereka yang lain.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku tak akan membawa motor hari itu, tak ka nada kecelakaan naas itu. Atau aku tak akan pergi kesekolah pada suatu 30 September . akan kupersiapkan semuanya!</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Hidupku akan sempurna! Kupastikan!</p>
<p>Namun,</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan menjalani hidup seenaknya, hidup akan kuanggap barang murahan, barang yang bisa kuulangi berapa kalipun aku mau, hidup tak akan kuhargai seperti dulu aku memujanya.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan bosan, sungguh bosan, aku akan menelan kejadian yang sama berulang-ulang, aku akan melangkahi dimensi yang serupa berkali-kali. tak peduli apapun yang kulakukan di momen yang sama pada saat yang berbeda, aku akan muak!</p>
<p>Akhirnya aku mengerti, mengapa Tuhan tak memberi kita tombol <em>rewind. </em>Mengulangi waktu yang telah Â mengalir sama saja dengan menyambungkan kembali buah yang telah jatuh, mungkin kau berhasil menyambungnya kembali ke dahan, namun ia tak akan bertambah matang.</p>
<p>Hidup yang sempurna memang hidup yang megalir bagai gerimis, dia mungkin jatuh meratapi bumi, namun tak pernah lagi ia merintiki langit.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Akan kusimpan saja di botol kaca. Menjadi penghias kamar</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<blockquote><p>Sumpah, aku lagi sinting ketika menulis tulisan ini&#8230; Mana ada yang lebih sinting dibandingkan orang yang berandai-andai dirinya adalah DVD-Player??</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debu itu tak kan mengganggu!!</title>
		<link>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 13:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Ada orang-orang yang sangat suka mengamati matahari, kemanapun dia pergi. Matahari pun seakan tak mau kalah, bersolek, berkawan dengan alam sekitar, membuat mata ini terbelalak, tak sanggup menampung keindahan-keindahan ini di kornea mata. Matahari memang begitu menawan, kita bisa terpana ketika ia terbit, terkadang kita mendelik ketika ia terik, namun jarang yang menikmati kala ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_489" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/badai-debu.jpg"><img class="size-medium wp-image-489" title="badai-debu" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/badai-debu-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">debu... debu..</p></div>
<p>Ada orang-orang yang sangat suka mengamati matahari, kemanapun dia pergi. Matahari pun seakan tak mau kalah, bersolek, berkawan dengan alam sekitar, membuat mata ini terbelalak, tak sanggup menampung keindahan-keindahan ini di kornea mata. Matahari memang begitu menawan, kita bisa terpana ketika ia terbit, terkadang kita mendelik ketika ia terik, namun jarang yang menikmati kala ia akan pergi. <span id="more-488"></span></p>
<p>Aku juga sepertinya adalah orang yang sangat senang memperhatikan bintang kuning itu, matahari bagiku seperti mempunyai rantai tak terlihat, menarik-narik leherku untuk menatapnya ketika ia akan pergi, seakan berkata: â€œhei! Lihatlah! Lihat keindahanku untuk terakhir kalinya hari ini!â€ ohh.. senjaâ€¦</p>
<p>Namun akhirnya aku tak lagi bisa melihat senja begitu sering, sekarang bangunan sudah bertambah banyak, bertambah padat dan terus memadat. Beberapa ada yang tinggi menjulang, mengganggu pandangan. Aku sebenarnya tidak merasa terlalu risih, sampai akhirnya aku sadar: aku tak bisa melihat matahari terbenam lagi dari rumah.</p>
<p>Beberapa kali kusempatkan pulang ketika hari mulai sore dari sekolah, berharap bisa melihat matahari terbenam. Namun tak ada yang senikmat menikmati sunset dengan the hangat di tangan di teras rumah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Akhir-akhir ini aku bertemu teman maya baru, si <a href="http://gadisnegridebu.blogspot.com/" target="_blank">Tilla</a>, anak Padang yang berdomisili di Padang, namun sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya. Dia menetap di suatu tempat yang sangat aku ingin untuk tinggal walaupun sehari: Indarung. Sentral industri semen yang mengIndonesia, Semen Padang. Tempat yang berdebu, namun seru.</p>
<p>Ada alasan kenapa aku sangat menginginkan untuk menetap walau sehari di Indarung, disana kita bisa melihat matahri terbenam FULL, tanpa ada yang menghalangi, matahari seakan terbenam bersih, walaupun hujan deras membanjiri seluruh kota Padang, Indarung memang terletak di ketinggian.</p>
<p>Aku pun cukup sering mendengar ocehan Tilla tentang sunset yang dilihatnya. Terkadang aku terkesan, namun juga kesal. Ahhâ€¦ ingin sekali aku menginap disana, walaupun hanya untuk sekali senja. Tak peduli berapa kalipun Tilla mengingatkanku betapa benyaknya debu dari semen-semen disana.</p>
<p>Kau tahu kawan? Bagiku, sejauh senja jelas kutatap, debu itu tak kan mengganggu!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Beliau senang mengutak-atik</title>
		<link>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru tahu, bahwa ternyata Tuhan senang dalam melencengkan sesuatu, hingga sesuatu itu berkesan berantakan. Berantakanadlah keadaan dimana sesuatu itu tidak diletakkan pada tempatnya. Bagiku berantakan bukan hanya itu, namun suatu hal yang sebab akibatnya yang tak benar juga akan kuanggap berantakan. Seperti jika kita berada dalam rumah yang kebakaran, namun kita tetap tidak hangus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_472" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/aurora.jpg"><img class="size-medium wp-image-472" title="aurora" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/aurora-300x225.jpg" alt="" width="500" /></a><p class="wp-caption-text">aurora</p></div>
<p>Aku baru tahu, bahwa ternyata Tuhan senang dalam melencengkan sesuatu, hingga sesuatu itu berkesan berantakan. Berantakanadlah keadaan dimana sesuatu itu tidak diletakkan pada tempatnya. Bagiku berantakan bukan hanya itu, namun suatu hal yang sebab akibatnya yang tak benar juga akan kuanggap berantakan. Seperti jika kita berada dalam rumah yang kebakaran, namun kita tetap tidak hangus hingga api padam, maka itu juga kusebut sebagai â€takdir yang berantakanâ€.</p>
<p><span id="more-471"></span></p>
<p>Namun sekali lagi, aku baru tahu, Tuhan ternyata senang memberantakkan takdir yang dibuatnya. Ini kudapat dari kebiasaan burukku akhir-akhir ini.</p>
<p>Aku dulu pernah membawa motor dengan kecepatan konstan yang menyedihkan â€“ 20 Km/jam. Ini tak lepas dari nasihat dari orang tuaku: â€œhati-hatilah kau dijalan nak, jangan membawa motor lebih kencang dari yang bisa kau kendalikanâ€. Nah, karena alasan itu aku tak begitu sering dalam kebut-kebutan ketika di jalan. Namun selambat-lambatnya motor kujalankan, aku masih sempat terperosok dalam kondisi-nyaris-kecelakaan. Ah.. kenapa ini?</p>
<p>Dengan alasan penghematan, aku berhasil membujuk seorang teman untuk mengantarkan aku pulang dengan motornya untuk beberapa minggu ini. Dengan beberapa rayuan maut, aku pulang dengannya pada hari pertama. Namun 1 meter pertama dia menjalankan motornya, aku seakan ingin mencabut kembali rayuan tadi, ingin sekali rasanya akumencabik-cabik persetujuan yang tadi sudah disepakati. Dia menarik gas sehabis-habisnya!! Aku terloncat. Ingin sekali aku menggantikan dia dalam membawa motor, namun ada rasa segan, namun aku takut. Aarrgghh!!!</p>
<p>Anehnya, tak satupun dia menempatkan diri pada situasi nyaris kecelakaan. Ini ajaib! Aku yakin, ini bukan karena kehebatannya dalam berkendara. Seakan masalah lah yang takut untuk menghampirinya, dia melajukan kendaraan dengan ugal-ugalan, namun tak satupun ada celah untuk terjadi kecelakaan, aku sempat percaya bahwa dia adalah keturunan dukun. Namun setelah direnungkan(sangat susah merenung diatas motor yang ugal-ugalan) aku tahu, Tuhan sedang ingin bermain-main dengan takdir yang dia ciptakan. Ini tak jauh beda dengan ketika beliau mendinginkan api yang membakar api yang menjilati tubuh nabi Ibrahim. Ya, itu tak jauh beda dengan dua orang yang sampai tujuan dengan selamat walaupun menaiki motor 80 Km/jam di jalanan padat.</p>
<p>Aku masih merenungkannya hingga rumah. Hingga aku mengkategorikan 2 macam sifat dalam hal ini. Yang pertama adalah orang yang rugi. Yaitu orang yang penuh kehati-hatian, beraktivitas dengan kewaspadaan tinggi, namun kesalahan dan kecelakaan tetap membayanginya. Lalu orang yang sangat-super-betul-betul beruntung, orang yang ceroboh namun bahkan sang masalah pun tak mau berurusan dengannya.</p>
<p>Terkadang aku heran, Tuhan ternyata senang mengutak-atik takdirnya hingga menjadi acak-acakan pada beberapa manusia. Namun, mengapa takdir yang kacau itu mampir padaku?</p>
<p>Kalau ada pertanyaan: â€œmengapa ada gambar aurora di postingan ini?</p>
<p>Jawab: iseng saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Lingkaran merah</title>
		<link>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 14:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[8 Juli 1986 Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu. *** Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_454" class="wp-caption aligncenter" style="width: 399px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg"><img class="size-full wp-image-454" title="mawar putih" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg" alt="" width="389" height="583" /></a><p class="wp-caption-text">Selamat jalan Rahmi</p></div>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-452"></span>***</p>
<p>Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga tidak melupakan hari bersejarah dimana kita bertemu, hari yang kelam, dimana gerimis mendera ditengah musim panas, ada yang salah dengan langit. Aku juga belum lupa ketika melihatmu menggigil kedinginan waktu itu. Air mataku mengalir, ketika kuingat saat kita berkenalan dan kupinjamkan sweaterku waktu itu. Saat itu, aku tahu, bahwa telah terukir lagi sebuah nama dalam memori batinku: Rahmi julia.</p>
<p>Kau tahu Rahmi, aku sangat merindukan hari-hari itu, dimana kepingan-kepingan hati kita sudah menyatu sedikit-demi-sedikit. Aku rindu berjalan berdua denganmu sepulang kuliah, aku rindu melewatkan minggu-minggu penuh kesibukan dengan kilauan senyummu, aku ingin merasakan kembali ketika kita berjalan, menghadap kerlingan matahari senja, yang kau balas dengan keindahanmu. Keindahanmu melebur dengan deburan ombak di pantai air manis ini, seakan semua keindahan ini adalah keindahan dari sisi dirimu yang lain,Â  nikmatilah ini Rahmi, tuhan melukiskannya untukmu.</p>
<p>Kau mulai menggeliat pelan masuk ke dalam kehidupanku sejak saat itu. Kau sejengkal-demi sejengkal telah terjun dalam usahaku mengait pencapaian-pencapaian hidup. Kau lebih dari sekedar pelita, Rahmi, kau tak akan tergantikan.</p>
<p>Masih ingatkah kau Rahmi? Saat-saat dimana kita menikmati senja sepulang kuliah? Derap langkah kita agaknya menggentarkan dunia, karena kulihat dunia menghening ketika kita berjalan beriringan, paling tidak, mungkin itu hanya ada dalam kepalaku. Aku masih bisa merapal-rapal kembali kata-kata manismu, seakan menstimulasi pikiranku agar bekerja lebih realistik, aku masih ingat senandung-senandung dari bibir tipismu itu, menambah satu jalan kehidupan lagi yang harus kutempuh: hidup selamanya denganmu.</p>
<p>Aku ingin menayangkan ulang memori dimana kita terikat pada suatu perjanjian, sebuah perjanjian sakral dimana hanya nyawa yang bisa mengirisnya. Aku bersyukur bisa menikahimu, kita telah banyak melewati waktu bersama, kita telah banyak mengail-ngail keindahan senja kedalam penglihatan kita. Kali ini aku ingin membalas senyum ramah sang fajar denganmu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Aku tahu Rahmi, kau bukanlah tipe wanita yang mempunyai impian yang rendah, kau jelas tak ingin menjadi istri yang biasa, aku tahu itu dari sorot matamu, yang seakan-akan memaki-maki diriku, mendelik marah, mengapa aku terus membuat sang pemilik mata itu berdiam diri di rumah. Atau dari ucapan-ucapan cerdasmu, yang seakan mengisyaratkan: â€œbang, aku ingin melanjutkan kuliahkuâ€. Atau dari sikapmu, membuatku merasa sangan sia-sia jika hidupmu hanya dihabiskan sebagai wanita yang biasa saja.</p>
<p>â€œbang, apakah aku boleh melanjutkan kuliahku?â€ di minggu pagi yang cerah, membuat secangkir teh hangat urung kuhirup.</p>
<p>â€œmengapa tidak? Kau tahu sayang? Aku sangat mendukung apapun yang rasanya bisa membuatmu menjadi lebih baikâ€ ya, aku sangat mengerti itu Rahmi&#8230;</p>
<p>â€œnamun apakah kau akan keberatan bang, jika aku akan mengambil pascasarjana di universitas indonesia?â€</p>
<p>â€œkebetulan sekali Rahmi, aku juga akan dipindah kerjakan ke jakarta, insya allah dalam waktu dekta kita akan pindah ke jakartaâ€</p>
<p>Aku bersumpah, sedetik setelah ucapan itu, alam semesta seakan ada dalam matamu Rahmi&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sudah tiga bulan, rasanya hidup di jakarta tidaklah ada masalah yang berarti, kau tetap menjalankan kuliahmu, dan aku pun terus berkelahi dengan pekerjaanku. Namun kau ingat Rahmi, kita tak pernah berniat melewatkan satu senja pun untuk kita tatapi keindahnnya. Kita tak pernah ingin mengacuhkan satu pagi pun tanpa membalas senyum sang fajar, hingga suatu hari mataku terpaku pada tinta merah yang kau goreskan pada kalender putih di ruang keluarga, kau lingkari, lalu kau tulis: 1 Juli 1985, ulang tahun pernikahan kita yang pertama.</p>
<p>â€œbang, alhamdulillah, kita telah melewati 360 hari paling rumit dalam hubungan rumah tangga, hari-hari yang berat, namun penuh oleh kesenangan yang membuai, semoga tahun-tahun kedepan keluarga kita semakin harmonis bang&#8230;â€</p>
<p>Ya, Rahmi, semoga.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Mulai lagi tertata deretan hari-hari panjang yang kita jejaki, sudah hampir 2 tahun pula asmara kita beruntai-untai dalam tirai rumah tangga. Ada saat-saat aku terkadang merindukanmu bergitu dalam, dan mungkin aku akan mengalaminya sekali lagi. Kau berencana pergi dengan keluargamu ke Kuala lumpur, Malaysia. Untuk menghadiri pesta pernikahan sepupumu. â€œbang, ayo, ikutlah. Kita akan mencoba melihat bagaimana senyum senja di kuala lumpur kan?â€ sayang, maaf, ajakanmu waktu itu kutolak, ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan, lain kali mungkin.</p>
<p>Namun sayang, aku tak sadar, bahwa kali itu mungkin adalah kali terakhir aku bisa mengecup wajah indahmu&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan belum berhenti, masih setia menemaniku, kuletakkan selembar koran minggu lalu, tepat di sebelah kalender tahun lalu yang dilingkari tinta merah. Kalender yang bersebelahan dengan koran yang bertulisan:</p>
<blockquote><p><strong>Telah terjadi kecelakaan mobil di Kampung salak selatan, Kuala lumpu, Malaysia(1 Juli 1986). Hanya ada seorang korban, seorang wanita dari Sumatera barat, Indonesia. Bernama RAHMI JULIA.</strong></p></blockquote>
<p>Sungguh Rahmi, aku ingin melewatkan walaupun satu kali senja lagi bersamamu.</p>
<p>Arif â€“aurora- rahman</p>
<p><a href="mailto:aurora@langittimur.com">aurora@langittimur.com</a></p>
<p><a href="../../../../../">http://www.langittimur.com</a></p>
<p>weleh-weleh&#8230;. lama tak update, aku jadi ingin membuat cerpen lagi.. namun yang ini sumpah cuma cerpen iseng-isengan&#8230; bikin cerpen tentang pasangan suami istri, namun aku saja belum punya siapa-siapa untuk menjadi pasangan&#8230; jadi, mohon maaf para pambaca kalau feeling nya kurang dapat. Maklum, yang menulis belum punya pasangan&#8230; hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak-jejak yang tertata</title>
		<link>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik. Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman. Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_433" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg"><img class="size-full wp-image-433" title="taonbaru" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg" alt="" width="500" height="454" /></a><p class="wp-caption-text">selamat tahun baru, mari rayakan, sekalipun di dunia maya</p></div>
<p><strong><em>Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik.</em></strong></p>
<p><strong><em>Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman.</em></strong></p>
<p>Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya</p>
<p><span id="more-432"></span><strong><em>Namun terkadang dia bisa saja menjadi begitu lambat, bagai rantai tanpa pelumas. Kau bisa saja merasa telah mengarungi 1000 tahun kehidupan, ketika kau sadar bahwa kau hanya bergeming beberapa kedipan.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apa-apaan ini? Mengapa tahun 2011 begitu lama? Kapan aku bisa mengecap bangku pendidikan baru? Aku sudah hampir muak dengan Sekolah Menengah Atas dengan segala tetek bengeknya. Mungkin hal-hal yang menyenangkan datang mencoba untuk mengobati, namun itu tak cukup kuat dalam menawar semua keterbatasan ini.</p>
<p><strong><em>Sekarang kau seakan-akan tengah menghadapi senja pada suatu hari. Dia dan semua cahaya emasnya membelaimu, hingga terkantuk-katuk, kau boleh beristirahat sejanak, atau kau juga bisa merenungkan, apa yang telah kau kerjakan hari iniâ€¦</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku baru sadar, ternyata aku sudah di penghujung tahun. Tak ada yang begitu tercetak dalam pada memoriku ini, kecuali warna-warna yang disebut orang-orang sebagai kehidupan, yang terkadang merefleksikan warna abu-abu, namun di lain waktu bisa saja memamerkan warna-warni nya. Ahhâ€¦ inilah hidupâ€¦</p>
<p><strong><em>Tak perlu kau beruban untuk menunggu datangnya fajar, yang akan menepuk-nepuk pundakmu, menyuruhmu bangun, memikirkan strategi, apa saja yang kan kau hadapi seharian nanti. Jangan kau ulur terus, jangan lagi memantul-mantulkan waktu. Segera bangun dan bangun visimu pagi ini!!</em></strong></p>
<p>Setelah difikirkan, sekarang memang saatnya untuk membangun visi untuk tahun depan. Mungkin disini aku bisa membagi-bagikan visiku pada teman semua:</p>
<ol>
<li>Terus      menulis, agar makin baik, dan semakin membaik.</li>
<li>Agak      seriusan sekarang. Kapan lagi aku melihat nilai matematika dan fisikaku      menjadi lumayan?</li>
<li>mengerjakan      beberapa proyek bersama teman, untuk proyek ini, maaf masih      dirahasiakan(namun yang jelas, masih menyangkut soal internet)</li>
<li>Menaikkan      stats semua aspek, baik agama, akademis, blogging, kemandirian,      kedewasaan, kesabaran, dan lain-lain</li>
<li>Mencari      istri baru. Mungkin sudah saatnya mewariskan sang istri lama, CPU intel      Pentium 4. mau diganti dengan netbook HP pavilion.</li>
</ol>
<p><strong><em>Sekarang aku telah dihadapkan pada sebuah pintu. Begitu jelas, begitu dekat. Detik demi detik, semakin dekat rasanya aku menyeret kaki ke arahnya. hmm&#8230; Pintu yang berwarna, banyak sekali warna, namun dengan corak yang berbeda dengan pintu sebelumnya. Sedikit lagi akan terbuka, sebuah pintu menuju era baru, &#8220;era 2010&#8243;.</em></strong></p>
<p>Mungkin hanya itu saja, dan buat semu teman-teman blogger, selamat tahun baru 2010!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: elegi sepucuk anggrek</title>
		<link>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read yaâ€¦ Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannyaâ€¦ OK!! mari dimulai!!! Elegi sepucuk anggrek â€œJangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!â€ Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 425px"><img src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/anggrek.jpg" alt="" width="415" height="536" /><p class="wp-caption-text">elegi sepucuk anggrek</p></div>
<p>Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read yaâ€¦ Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannyaâ€¦ OK!! mari dimulai!!!</p>
<p><span id="more-429"></span>Elegi sepucuk anggrek</p>
<p>â€œJangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!â€ Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan desember, bersama kita menyirami anggrek. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan di musim ini, mengingat hujan selalu menggelitik sore-sore temaram. Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini. Aku terlalu terpesona melihat kepiwaianmu akan merawat tanaman indah itu, namun tak begitu sering, sejak kau sibuk dengan pendaftaranmu kuliah ke luar negeri sana.</p>
<p>Sudah sejak kelulusan SMA kita dulu kau sudah membicarakan itu. Juga cita-cita kerenmu sebagai wartawan internasional itu. Begitu menggebu-gebu kau menceritakan padaku, bagaimana sebuah universitas sedang membuka peluang untuk murid dari luar negeri. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Ah sobat, cita-citamu begitu tinggiâ€¦ walaupun aku takkan bisa sepertimu, aku akan berjuang untukmu.</p>
<p>Sekarang kau dan aku sudah berdiri disini. Pelabuhan yang disebut orang sebagai teluk bayur, gerbang laut dimana kau akan datang dan meninggalkan tanah minang. â€œkenapa kau yung? Kau sangat muram. Sudahkah engkau makan?â€. Aku hanya diam. Kau tahu? Segantang besar makanan tak akan bisa mengusik lamunanku. Tidakkah engkau sadar, mungkin inilah menit-menit dimana aku bisa melihatmu sekaligus rambut lusuhmu itu, mungkin beberapa menit lagi adalah menit terakhir dimana kita bisa berjabat tangan. Tapi, mana mungkin kau sadar? Mungkin hanya sepenggal nyawamu yang masih disini, kehidupan barumu diluar sana mungkin telah merenggut sebagian besarnya.</p>
<p>â€œHei lut, kapalmu itu agaknya sudah datang!â€ ucapku lantang. Sekelebat bayangan besar datang dari arah laut sana. detik demi detik, bayangan itu mendekat sejengkal demi sejengkal. Hingga akhirnya bisa kulihat jelas tulisan: K.M LAMBELU . inikah kapalmu itu? Perahu besi yang kau ceritakan padaku? Kendaraan besar yang akan membawamu ke satu dari tujuh samudera di bumi kita ini? Sang pembawamu saja sudah membuatku terkesan, Lutfiâ€¦</p>
<p>â€œNah buyung, mungkin ini saatnya kita harus berpisah. Namun ingat! Kau tak mau kan? Sekian tahun persahabatan kita rela terpisahkan oleh sang kilometer? Selama kita masih bernaung di langit yang sama, tak kan sirna seutas tali yang menghubungkan kita, menghubungkan Padang dengan Oxford â€¦ â€œ begitu kesalnya aku, ketika aku hanya bisa menjawab dengan kesunyianâ€¦.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah beberapa tahun sejak kau ucapkan kata-kata indah itu di dermaga teluk bayur, sudah bertahun pula rasanya aku kehilangan seorang kakak. Aku terkadang masih geli membayangkan kita melangkahi waktu ketika umur masih sepertiga sekarang? Ketika kau bersikeras tetap memanggilku buyung? Sebuah panggilan yang diberikan amak untuk panggilan kesayangan. â€œapa bedanya kalau kau kupanggil buyung ataupun nama di akte kelahiranmu itu? Tak ada yungâ€¦ yang jelas, nama itu mengarah pada dirimu!!â€ bantahmu ketika kusuruh memanggilku dengan nama yang seharusnya. â€œkalau memang hanya keluargamu yang boleh memanggilmu begitu, anggap saja aku ini kakakmu!!â€ jawabmu tiga detik setelah kukatakan bahwa hanya amak dan bapakku saja yang boleh memanggilku begitu. Namun, aku masih belum mengerti, kenapa kau melarangku memanggilmu â€œkakakâ€.</p>
<p>Aku tersadar ketika air menetes ke celana pendekku. Aku terlalu banyak menyirami anggrek putih ini, ketika tak ada lagi yang meneriakiku ketika aku terus melamun ketika menyiram tanaman. Ya, lutfi, bahkan disaat kau jauh, anggrek ini tetap kusiramiâ€¦</p>
<p>***</p>
<p>Aku tak tahu, entah apa yang membawaku untuk mengecek emailku pagi ini. Akupun tak terkejut ketika kujumpai 216 unread message di inbox emailku. Aku memang jarang sekali mengeceknya, dan memang pesan yang datang bukanlah pesan yang teramat penting. Namun kulihat urutan teratas pesan-pesan itu. Ada alamat emailmu disana. Kubuka, dan kuamati. Setengah bagian surat hanyalah permintaan maafmu karena tak bisa pulang ketika liburan musim dingin kemarin. Namun ada yang menarik bola mata ini untuk melihat penutup surat:</p>
<blockquote><p><em>â€œ</em><em><strong>Kau tahu kan? Bahwa hidup itu seperti jarum jam? Terkadang kau melihat jarumnya bergelayut di angka 12. namun beberapa waktu kemudian kau bisa saja melihatnya menusuk angka 6. terkadang kita bisa berada di tempat yang paling atas. Namun tak ada yang tahu, tinggal berapa waktu yang tersisa untuk kita terjun ke tempat yang lebih rendah. Namun bagiku, mencapai angka 12 mungkin bisa terbilag sangat sulit. Hahaâ€¦ akan kuusahakan agar aku tak kan jatuh ke angka 6. kau juga harus berusaha buyung!!</strong></em><em>â€</em></p></blockquote>
<p>Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam menyerapi kata demi kata pada surat ini.</p>
<p>Beberapa hari terlewati, emailmu kuterima kembali:</p>
<blockquote><p><strong><em>â€œhai yung. Bagaimana kabarmu? Setelah suratku kemarin, sepertinya aku akan begitu dekat dengan angka 12. Kau tahu! Aku lulus dari universitasku!! Dan kemarin kuajukan pula lamaran pada sebuah media internasional, Al-jazeera. Mereka tertarik dengan esay jurnalistikku tentang kekejaman Israel di jalur ghaza. Dan sekarang aku sudah berpindah apartemen. Aparteman yang dulu sangat sempit, terlalu sempit untuk merayakan euphoria kelulusan ini. Hahaâ€¦ lagipula di tempat yang baru ada banyak sekali anggrek! Paling tidak anggrek ini akan bisa mengingatkanku pada orang yang sering betul kebanyakan menyiram anggrek. hahaha. Kabar selanjutnya akan kutelepon kau yung.â€</em></strong></p></blockquote>
<p>Aku tak hanya terdiam membaca surat ini, aku tertawa keras begitu selesai membacanya. Kau begitu nyaris, atau bahkan sudah mencapai angka 12 mu. Dan mungkin aku dan kau tidak akan merasa berjauhan lagi, mengingat kita sama-sama menyirami anggrek sekarangâ€¦</p>
<p>***</p>
<p>Ada yang tak beres hari ini lut, dadaku sesak. Ibuku bertanya, kujawab saja tak apa-apa. Memang, rasanya tak ada yang salah dengan tubuhku. Lagi-lagi ada saja yang membimbingku untuk mengecek email. Namun kali ini lain. Bukan surat darimu yang datang, namun dari teman satu apartemenmu.</p>
<p>Kubuka surat itu, rupanya surat itu telah dikirim ke banyak orang. Dan betapa lemasnya tubuhku membacanya, seakan ada tombak yang tak tampak menusuk ke dada. Sesak, sungguh sesak. Seakan tak percaya, kubaca lagi surat itu. Tak satupun susunan hurufnya yang berubah. Apakah ini kenyataan? Apakah seorang yang kujunjung, telah berakhir sampai disini? Apakah cita-cita itu tak sadar, bahwa kau telah begitu dekat dengannya?? Kubaca kembali huruf demi huruf. Tak satupun ada yang berubah, sangat beda dengan dadaku yang sesak, karena tangis dan teriakan ini hanya sebatas di rongga dada. Sungguh, tulisan itu benar-benar mebuatku tak sadar. Hanya sedikit pesan kecil:</p>
<blockquote><p><strong><em>had died, our friend, our brother, Lutfi ramadhan, in Catte st, Oxford, Oxfordshire, UK. gas poisoning on 16 December 2008</em></strong></p>
<p><em><strong>â€œTelah meninggal dunia, teman kita, saudara kita, Lutfi ramadhan, di Catte st, Oxford, Oxfordshire, Inggris. keracunan gas pada 16 Desember 2008</strong></em><strong> </strong></p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Seminggu sudah berita duka begitu mengguncangku dengan hebat. Aku hanya bisa mendoakanmu setiap malam. Terkadang aku berfikir, harskah kulanjutkan impianmu? Aku rasa kau pasti akan senang, ketika seorang sahabatmu menggapaikan cita-citamu. Mulai besok, aku akan berlatih untuk masuk ke sekolah jurnalistik.</p>
<p>Ada suatu hal yang kuharap akan membesarkan hatiku. Ketika eksistensi fisikmu tak bisa kupertahankan, kepingan jiwamu mungkin masih kusimpan, biarpun itu didalam duniaku. Bagiku, kau masih terus hidup, dalam indahnya sepucuk anggrek.</p>
<p>Semoga dari sana bisa kau dengar jelas, untaian-untaian elegikuâ€¦</p>
<p><strong>Padang</strong><strong>, 16 Desember 2009</strong></p>
<p><strong>Arif â€“aurora- rahman</strong></p>
<p><strong><a href="mailto:aurora@langittimur.com" target="_blank">aurora@langittimur.com</a></strong></p>
<p><a href="../" target="_blank"><strong>http://www.langittimur.com</strong></a></p>
<blockquote><p>heheheâ€¦. bukan apa-apa, aku hanya ikut-ikutan. Ketika kulihat banyak juga teman-teman yang buat cerpen. Terfikir pula, mengapa tidak kubuat pula sebuah cerpen untuk mengingat hari wafatnya Soe hok gie. Tepat hari ini, 40 tahun yang lalu.Lutfi dan Gie, mereka berdua begitu sinergi. sama-sama mati muda, ketika ambisi sudah bersiap untuk digenggam.</p></blockquote>
<p>terima kasih bagi teman-teman semua yang dengan baik hatinya mengkritik dan memberikan tanggapan akan tulisan ini. namun, ternyata sesuatu bernama &#8220;kecerobohan juga ingin ikut punya andil dalam tulisan ini. dia membuat aku salah kaprah dalam backup database. sehingga postingan ini sekaligus dengan komentar dari teman-teman semua hilang tak berbekas. sekali lagi, terima kasih atas semua komentar, dan maaf atas kesalahanku dalam menghapusnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
