<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eastern Sky Area</title>
	<atom:link href="http://www.langittimur.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.langittimur.com</link>
	<description>Sebuah Cawan Untuk Aspirasi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Feb 2010 12:16:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Rintihan kala malam</title>
		<link>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 11:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Siapa itu yang merintih? Kuntilanak? Bukan! Anjing tetangga?? Bukan!! Nenek-nenek yang jari telunjuk kirinya sakit? Hampir tepat!! Namun  dalam kasus ini, pemerannya adalah blogger 16 tahun.

Ya, aku sedang sakit, memang bukan sakit yang parah bagi kebanyakan orang. Namun, siapa yang bisa memberikan tolak ukur apa yang disebut “parah” itu?? Parahnya sebuah penyakit itu relatif! Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_503" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/medicine.jpg"><img class="size-medium wp-image-503" title="medicine" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/medicine-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Obat. makanan akhir-akhir ini...</p></div>
<p>Siapa itu yang merintih? Kuntilanak? Bukan! Anjing tetangga?? Bukan!! Nenek-nenek yang jari telunjuk kirinya sakit? Hampir tepat!! Namun  dalam kasus ini, pemerannya adalah blogger 16 tahun.</p>
<p><span id="more-500"></span></p>
<p>Ya, aku sedang sakit, memang bukan sakit yang parah bagi kebanyakan orang. Namun, siapa yang bisa memberikan tolak ukur apa yang disebut “parah” itu?? Parahnya sebuah penyakit itu relatif! Tak bisa diukur… mungkin bagi sebagian orang sakitku mungkin hanya penyakit kecil, namun ini cukup bagiku untuk mengganti dengkur kenikmatan dengan rintihan-rintihan pilu.</p>
<p>Oke, cukuplah basa-basinya. Aku akan memberitahukan penyakitku. Penyakit yang kuvonis sendiri dengan penelitian sendiri pula. Penyakitku adalah dua penyakit enteng yang bergabung menjadi penyakit yang bisa membuatku mangap-mangap. Dua penyakit itu adalah:</p>
<ol>
<li>kuku ku mengalami apa yang disebut kak      Nana sebagai <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2010/01/09/kedagingen/" target="_blank">kedagingen</a></li>
<li>FLU. Oleh-oleh dari angin muson barat      dari Australia      (ini penyakit impor)</li>
</ol>
<p>Hmm…. Sejauh ini mereka berkolaborasi dengan sangat bagus. Membuatku merintih sekaligus sesak napas. Salut buat tuhan!!</p>
<p>Mungkin efek sakitnya sudah mulai membuat muak. Namun ada beberapa efek yang membuat penyakit ini semakin biadab. Berhubung penyakit ini tak begitu dianggap serius, maka ini tak terlalu mencuri perhatian khusus bagi orang tua. Lihat tulisanku <a href="http://www.langittimur.com/ketika-blogger-sakit.html" target="_blank">yang ini</a> dan anda akan segera tahu kalau aku sangat ingin sakit sekaligus alasannya.</p>
<p>Satu efek lagi: aku tak bisa mengambil bonus bolos dari penyakit yang tanggung-tanggung ini….</p>
<p>Namun tak apalah sakit sedikit… kapan lagi kita bisa menghargai apa yang itu disebut “kesehatan”??</p>
<blockquote><p>Fiuuh… maaf bagi para pembaca LT jika aku belum bisa membuat tulisan yang agak serius. Coba scroll ke atas, pasti akan ketemu alasannya: Aku sakit!. Pesan dari langittimur: sekarang musim pancaroba. Hujan dan panas kadang datang seenak udel mereka. Banyak penyakit enteng yang kadang lumayan menyebalkan akan menhampiri kita. Mulai dari yang elit seperti alergi serbuk bunga, hingga yang konvensional seperti kudis, kurap, dan kutu air. Jangan tunggu sakit untuk menghargai sang kesehatan!!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/rintihan-kala-malam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin berbalik kembali</title>
		<link>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 17:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Andai hidup memiliki tombol rewind.
Aku akan perbaiki masa taman kanak-kanakku yang tak pernah kuselesaikan, akan kupukuli semua anak nakal yang menggangguku, akan kudapatkan nilai A+ di semua prakarya sekolahku.
Andai hidup memiliki tombol rewind.
Akan kupelajari apa yang sampai sekarang tak pernah kutahu. Akan kucari apa yang belum pernah kudapat, akan kubayar semua hutang yang tak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_494" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/berputar1.jpg"><img class="size-medium wp-image-494" title="berputar" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/berputar1-300x299.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">berputar... berbalik kembali...</p></div>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan perbaiki masa taman kanak-kanakku yang tak pernah kuselesaikan, akan kupukuli semua anak nakal yang menggangguku, akan kudapatkan nilai A+ di semua prakarya sekolahku.</p>
<p><span id="more-492"></span><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Akan kupelajari apa yang sampai sekarang tak pernah kutahu. Akan kucari apa yang belum pernah kudapat, akan kubayar semua hutang yang tak pernah terlunasi.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Tak satupun puasa yang kutinggalkan, tak satupun shalat yang kulalaikan, akan kulunasi semua hutang, akan kumaafkan semua teman, dan maafpun akan kutagih dari sebagian mereka yang lain.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku tak akan membawa motor hari itu, tak ka nada kecelakaan naas itu. Atau aku tak akan pergi kesekolah pada suatu 30 September . akan kupersiapkan semuanya!</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Hidupku akan sempurna! Kupastikan!</p>
<p>Namun,</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan menjalani hidup seenaknya, hidup akan kuanggap barang murahan, barang yang bisa kuulangi berapa kalipun aku mau, hidup tak akan kuhargai seperti dulu aku memujanya.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Aku akan bosan, sungguh bosan, aku akan menelan kejadian yang sama berulang-ulang, aku akan melangkahi dimensi yang serupa berkali-kali. tak peduli apapun yang kulakukan di momen yang sama pada saat yang berbeda, aku akan muak!</p>
<p>Akhirnya aku mengerti, mengapa Tuhan tak memberi kita tombol <em>rewind. </em>Mengulangi waktu yang telah  mengalir sama saja dengan menyambungkan kembali buah yang telah jatuh, mungkin kau berhasil menyambungnya kembali ke dahan, namun ia tak akan bertambah matang.</p>
<p>Hidup yang sempurna memang hidup yang megalir bagai gerimis, dia mungkin jatuh meratapi bumi, namun tak pernah lagi ia merintiki langit.</p>
<p><strong>Andai hidup memiliki tombol <em>rewind.</em></strong></p>
<p>Akan kusimpan saja di botol kaca. Menjadi penghias kamar</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<blockquote><p>Sumpah, aku lagi sinting ketika menulis tulisan ini&#8230; Mana ada yang lebih sinting dibandingkan orang yang berandai-andai dirinya adalah DVD-Player??</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/ingin-berbalik-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debu itu tak kan mengganggu!!</title>
		<link>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 13:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Ada orang-orang yang sangat suka mengamati matahari, kemanapun dia pergi. Matahari pun seakan tak mau kalah, bersolek, berkawan dengan alam sekitar, membuat mata ini terbelalak, tak sanggup menampung keindahan-keindahan ini di kornea mata. Matahari memang begitu menawan, kita bisa terpana ketika ia terbit, terkadang kita mendelik ketika ia terik, namun jarang yang menikmati kala ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_489" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/badai-debu.jpg"><img class="size-medium wp-image-489" title="badai-debu" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/badai-debu-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">debu... debu..</p></div>
<p>Ada orang-orang yang sangat suka mengamati matahari, kemanapun dia pergi. Matahari pun seakan tak mau kalah, bersolek, berkawan dengan alam sekitar, membuat mata ini terbelalak, tak sanggup menampung keindahan-keindahan ini di kornea mata. Matahari memang begitu menawan, kita bisa terpana ketika ia terbit, terkadang kita mendelik ketika ia terik, namun jarang yang menikmati kala ia akan pergi. <span id="more-488"></span></p>
<p>Aku juga sepertinya adalah orang yang sangat senang memperhatikan bintang kuning itu, matahari bagiku seperti mempunyai rantai tak terlihat, menarik-narik leherku untuk menatapnya ketika ia akan pergi, seakan berkata: “hei! Lihatlah! Lihat keindahanku untuk terakhir kalinya hari ini!” ohh.. senja…</p>
<p>Namun akhirnya aku tak lagi bisa melihat senja begitu sering, sekarang bangunan sudah bertambah banyak, bertambah padat dan terus memadat. Beberapa ada yang tinggi menjulang, mengganggu pandangan. Aku sebenarnya tidak merasa terlalu risih, sampai akhirnya aku sadar: aku tak bisa melihat matahari terbenam lagi dari rumah.</p>
<p>Beberapa kali kusempatkan pulang ketika hari mulai sore dari sekolah, berharap bisa melihat matahari terbenam. Namun tak ada yang senikmat menikmati sunset dengan the hangat di tangan di teras rumah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Akhir-akhir ini aku bertemu teman maya baru, si <a href="http://gadisnegridebu.blogspot.com/" target="_blank">Tilla</a>, anak Padang yang berdomisili di Padang, namun sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya. Dia menetap di suatu tempat yang sangat aku ingin untuk tinggal walaupun sehari: Indarung. Sentral industri semen yang mengIndonesia, Semen Padang. Tempat yang berdebu, namun seru.</p>
<p>Ada alasan kenapa aku sangat menginginkan untuk menetap walau sehari di Indarung, disana kita bisa melihat matahri terbenam FULL, tanpa ada yang menghalangi, matahari seakan terbenam bersih, walaupun hujan deras membanjiri seluruh kota Padang, Indarung memang terletak di ketinggian.</p>
<p>Aku pun cukup sering mendengar ocehan Tilla tentang sunset yang dilihatnya. Terkadang aku terkesan, namun juga kesal. Ahh… ingin sekali aku menginap disana, walaupun hanya untuk sekali senja. Tak peduli berapa kalipun Tilla mengingatkanku betapa benyaknya debu dari semen-semen disana.</p>
<p>Kau tahu kawan? Bagiku, sejauh senja jelas kutatap, debu itu tak kan mengganggu!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/debu-itu-tak-kan-mengganggu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Beliau senang mengutak-atik</title>
		<link>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru tahu, bahwa ternyata Tuhan senang dalam melencengkan sesuatu, hingga sesuatu itu berkesan berantakan. Berantakanadlah keadaan dimana sesuatu itu tidak diletakkan pada tempatnya. Bagiku berantakan bukan hanya itu, namun suatu hal yang sebab akibatnya yang tak benar juga akan kuanggap berantakan. Seperti jika kita berada dalam rumah yang kebakaran, namun kita tetap tidak hangus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_472" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/aurora.jpg"><img class="size-medium wp-image-472" title="aurora" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/02/aurora-300x225.jpg" alt="" width="500" /></a><p class="wp-caption-text">aurora</p></div>
<p>Aku baru tahu, bahwa ternyata Tuhan senang dalam melencengkan sesuatu, hingga sesuatu itu berkesan berantakan. Berantakanadlah keadaan dimana sesuatu itu tidak diletakkan pada tempatnya. Bagiku berantakan bukan hanya itu, namun suatu hal yang sebab akibatnya yang tak benar juga akan kuanggap berantakan. Seperti jika kita berada dalam rumah yang kebakaran, namun kita tetap tidak hangus hingga api padam, maka itu juga kusebut sebagai ”takdir yang berantakan”.</p>
<p><span id="more-471"></span></p>
<p>Namun sekali lagi, aku baru tahu, Tuhan ternyata senang memberantakkan takdir yang dibuatnya. Ini kudapat dari kebiasaan burukku akhir-akhir ini.</p>
<p>Aku dulu pernah membawa motor dengan kecepatan konstan yang menyedihkan – 20 Km/jam. Ini tak lepas dari nasihat dari orang tuaku: “hati-hatilah kau dijalan nak, jangan membawa motor lebih kencang dari yang bisa kau kendalikan”. Nah, karena alasan itu aku tak begitu sering dalam kebut-kebutan ketika di jalan. Namun selambat-lambatnya motor kujalankan, aku masih sempat terperosok dalam kondisi-nyaris-kecelakaan. Ah.. kenapa ini?</p>
<p>Dengan alasan penghematan, aku berhasil membujuk seorang teman untuk mengantarkan aku pulang dengan motornya untuk beberapa minggu ini. Dengan beberapa rayuan maut, aku pulang dengannya pada hari pertama. Namun 1 meter pertama dia menjalankan motornya, aku seakan ingin mencabut kembali rayuan tadi, ingin sekali rasanya akumencabik-cabik persetujuan yang tadi sudah disepakati. Dia menarik gas sehabis-habisnya!! Aku terloncat. Ingin sekali aku menggantikan dia dalam membawa motor, namun ada rasa segan, namun aku takut. Aarrgghh!!!</p>
<p>Anehnya, tak satupun dia menempatkan diri pada situasi nyaris kecelakaan. Ini ajaib! Aku yakin, ini bukan karena kehebatannya dalam berkendara. Seakan masalah lah yang takut untuk menghampirinya, dia melajukan kendaraan dengan ugal-ugalan, namun tak satupun ada celah untuk terjadi kecelakaan, aku sempat percaya bahwa dia adalah keturunan dukun. Namun setelah direnungkan(sangat susah merenung diatas motor yang ugal-ugalan) aku tahu, Tuhan sedang ingin bermain-main dengan takdir yang dia ciptakan. Ini tak jauh beda dengan ketika beliau mendinginkan api yang membakar api yang menjilati tubuh nabi Ibrahim. Ya, itu tak jauh beda dengan dua orang yang sampai tujuan dengan selamat walaupun menaiki motor 80 Km/jam di jalanan padat.</p>
<p>Aku masih merenungkannya hingga rumah. Hingga aku mengkategorikan 2 macam sifat dalam hal ini. Yang pertama adalah orang yang rugi. Yaitu orang yang penuh kehati-hatian, beraktivitas dengan kewaspadaan tinggi, namun kesalahan dan kecelakaan tetap membayanginya. Lalu orang yang sangat-super-betul-betul beruntung, orang yang ceroboh namun bahkan sang masalah pun tak mau berurusan dengannya.</p>
<p>Terkadang aku heran, Tuhan ternyata senang mengutak-atik takdirnya hingga menjadi acak-acakan pada beberapa manusia. Namun, mengapa takdir yang kacau itu mampir padaku?</p>
<p>Kalau ada pertanyaan: “mengapa ada gambar aurora di postingan ini?</p>
<p>Jawab: iseng saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/ternyata-beliau-senang-mengutak-atik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Lingkaran merah</title>
		<link>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 14:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[8 Juli 1986
Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu.
***
Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga tidak melupakan hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_454" class="wp-caption aligncenter" style="width: 399px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg"><img class="size-full wp-image-454" title="mawar putih" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg" alt="" width="389" height="583" /></a><p class="wp-caption-text">Selamat jalan Rahmi</p></div>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-452"></span>***</p>
<p>Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga tidak melupakan hari bersejarah dimana kita bertemu, hari yang kelam, dimana gerimis mendera ditengah musim panas, ada yang salah dengan langit. Aku juga belum lupa ketika melihatmu menggigil kedinginan waktu itu. Air mataku mengalir, ketika kuingat saat kita berkenalan dan kupinjamkan sweaterku waktu itu. Saat itu, aku tahu, bahwa telah terukir lagi sebuah nama dalam memori batinku: Rahmi julia.</p>
<p>Kau tahu Rahmi, aku sangat merindukan hari-hari itu, dimana kepingan-kepingan hati kita sudah menyatu sedikit-demi-sedikit. Aku rindu berjalan berdua denganmu sepulang kuliah, aku rindu melewatkan minggu-minggu penuh kesibukan dengan kilauan senyummu, aku ingin merasakan kembali ketika kita berjalan, menghadap kerlingan matahari senja, yang kau balas dengan keindahanmu. Keindahanmu melebur dengan deburan ombak di pantai air manis ini, seakan semua keindahan ini adalah keindahan dari sisi dirimu yang lain,  nikmatilah ini Rahmi, tuhan melukiskannya untukmu.</p>
<p>Kau mulai menggeliat pelan masuk ke dalam kehidupanku sejak saat itu. Kau sejengkal-demi sejengkal telah terjun dalam usahaku mengait pencapaian-pencapaian hidup. Kau lebih dari sekedar pelita, Rahmi, kau tak akan tergantikan.</p>
<p>Masih ingatkah kau Rahmi? Saat-saat dimana kita menikmati senja sepulang kuliah? Derap langkah kita agaknya menggentarkan dunia, karena kulihat dunia menghening ketika kita berjalan beriringan, paling tidak, mungkin itu hanya ada dalam kepalaku. Aku masih bisa merapal-rapal kembali kata-kata manismu, seakan menstimulasi pikiranku agar bekerja lebih realistik, aku masih ingat senandung-senandung dari bibir tipismu itu, menambah satu jalan kehidupan lagi yang harus kutempuh: hidup selamanya denganmu.</p>
<p>Aku ingin menayangkan ulang memori dimana kita terikat pada suatu perjanjian, sebuah perjanjian sakral dimana hanya nyawa yang bisa mengirisnya. Aku bersyukur bisa menikahimu, kita telah banyak melewati waktu bersama, kita telah banyak mengail-ngail keindahan senja kedalam penglihatan kita. Kali ini aku ingin membalas senyum ramah sang fajar denganmu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Aku tahu Rahmi, kau bukanlah tipe wanita yang mempunyai impian yang rendah, kau jelas tak ingin menjadi istri yang biasa, aku tahu itu dari sorot matamu, yang seakan-akan memaki-maki diriku, mendelik marah, mengapa aku terus membuat sang pemilik mata itu berdiam diri di rumah. Atau dari ucapan-ucapan cerdasmu, yang seakan mengisyaratkan: “bang, aku ingin melanjutkan kuliahku”. Atau dari sikapmu, membuatku merasa sangan sia-sia jika hidupmu hanya dihabiskan sebagai wanita yang biasa saja.</p>
<p>“bang, apakah aku boleh melanjutkan kuliahku?” di minggu pagi yang cerah, membuat secangkir teh hangat urung kuhirup.</p>
<p>“mengapa tidak? Kau tahu sayang? Aku sangat mendukung apapun yang rasanya bisa membuatmu menjadi lebih baik” ya, aku sangat mengerti itu Rahmi&#8230;</p>
<p>“namun apakah kau akan keberatan bang, jika aku akan mengambil pascasarjana di universitas indonesia?”</p>
<p>“kebetulan sekali Rahmi, aku juga akan dipindah kerjakan ke jakarta, insya allah dalam waktu dekta kita akan pindah ke jakarta”</p>
<p>Aku bersumpah, sedetik setelah ucapan itu, alam semesta seakan ada dalam matamu Rahmi&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sudah tiga bulan, rasanya hidup di jakarta tidaklah ada masalah yang berarti, kau tetap menjalankan kuliahmu, dan aku pun terus berkelahi dengan pekerjaanku. Namun kau ingat Rahmi, kita tak pernah berniat melewatkan satu senja pun untuk kita tatapi keindahnnya. Kita tak pernah ingin mengacuhkan satu pagi pun tanpa membalas senyum sang fajar, hingga suatu hari mataku terpaku pada tinta merah yang kau goreskan pada kalender putih di ruang keluarga, kau lingkari, lalu kau tulis: 1 Juli 1985, ulang tahun pernikahan kita yang pertama.</p>
<p>“bang, alhamdulillah, kita telah melewati 360 hari paling rumit dalam hubungan rumah tangga, hari-hari yang berat, namun penuh oleh kesenangan yang membuai, semoga tahun-tahun kedepan keluarga kita semakin harmonis bang&#8230;”</p>
<p>Ya, Rahmi, semoga.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Mulai lagi tertata deretan hari-hari panjang yang kita jejaki, sudah hampir 2 tahun pula asmara kita beruntai-untai dalam tirai rumah tangga. Ada saat-saat aku terkadang merindukanmu bergitu dalam, dan mungkin aku akan mengalaminya sekali lagi. Kau berencana pergi dengan keluargamu ke Kuala lumpur, Malaysia. Untuk menghadiri pesta pernikahan sepupumu. “bang, ayo, ikutlah. Kita akan mencoba melihat bagaimana senyum senja di kuala lumpur kan?” sayang, maaf, ajakanmu waktu itu kutolak, ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan, lain kali mungkin.</p>
<p>Namun sayang, aku tak sadar, bahwa kali itu mungkin adalah kali terakhir aku bisa mengecup wajah indahmu&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan belum berhenti, masih setia menemaniku, kuletakkan selembar koran minggu lalu, tepat di sebelah kalender tahun lalu yang dilingkari tinta merah. Kalender yang bersebelahan dengan koran yang bertulisan:</p>
<blockquote><p><strong>Telah terjadi kecelakaan mobil di Kampung salak selatan, Kuala lumpu, Malaysia(1 Juli 1986). Hanya ada seorang korban, seorang wanita dari Sumatera barat, Indonesia. Bernama RAHMI JULIA.</strong></p></blockquote>
<p>Sungguh Rahmi, aku ingin melewatkan walaupun satu kali senja lagi bersamamu.</p>
<p>Arif –aurora- rahman</p>
<p><a href="mailto:aurora@langittimur.com">aurora@langittimur.com</a></p>
<p><a href="../../../../../">http://www.langittimur.com</a></p>
<p>weleh-weleh&#8230;. lama tak update, aku jadi ingin membuat cerpen lagi.. namun yang ini sumpah cuma cerpen iseng-isengan&#8230; bikin cerpen tentang pasangan suami istri, namun aku saja belum punya siapa-siapa untuk menjadi pasangan&#8230; jadi, mohon maaf para pambaca kalau feeling nya kurang dapat. Maklum, yang menulis belum punya pasangan&#8230; hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak-jejak yang tertata</title>
		<link>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik.
Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman.
Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya
Namun terkadang dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_433" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg"><img class="size-full wp-image-433" title="taonbaru" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg" alt="" width="500" height="454" /></a><p class="wp-caption-text">selamat tahun baru, mari rayakan, sekalipun di dunia maya</p></div>
<p><strong><em>Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik.</em></strong></p>
<p><strong><em>Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman.</em></strong></p>
<p>Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya</p>
<p><span id="more-432"></span><strong><em>Namun terkadang dia bisa saja menjadi begitu lambat, bagai rantai tanpa pelumas. Kau bisa saja merasa telah mengarungi 1000 tahun kehidupan, ketika kau sadar bahwa kau hanya bergeming beberapa kedipan.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apa-apaan ini? Mengapa tahun 2011 begitu lama? Kapan aku bisa mengecap bangku pendidikan baru? Aku sudah hampir muak dengan Sekolah Menengah Atas dengan segala tetek bengeknya. Mungkin hal-hal yang menyenangkan datang mencoba untuk mengobati, namun itu tak cukup kuat dalam menawar semua keterbatasan ini.</p>
<p><strong><em>Sekarang kau seakan-akan tengah menghadapi senja pada suatu hari. Dia dan semua cahaya emasnya membelaimu, hingga terkantuk-katuk, kau boleh beristirahat sejanak, atau kau juga bisa merenungkan, apa yang telah kau kerjakan hari ini…</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku baru sadar, ternyata aku sudah di penghujung tahun. Tak ada yang begitu tercetak dalam pada memoriku ini, kecuali warna-warna yang disebut orang-orang sebagai kehidupan, yang terkadang merefleksikan warna abu-abu, namun di lain waktu bisa saja memamerkan warna-warni nya. Ahh… inilah hidup…</p>
<p><strong><em>Tak perlu kau beruban untuk menunggu datangnya fajar, yang akan menepuk-nepuk pundakmu, menyuruhmu bangun, memikirkan strategi, apa saja yang kan kau hadapi seharian nanti. Jangan kau ulur terus, jangan lagi memantul-mantulkan waktu. Segera bangun dan bangun visimu pagi ini!!</em></strong></p>
<p>Setelah difikirkan, sekarang memang saatnya untuk membangun visi untuk tahun depan. Mungkin disini aku bisa membagi-bagikan visiku pada teman semua:</p>
<ol>
<li>Terus      menulis, agar makin baik, dan semakin membaik.</li>
<li>Agak      seriusan sekarang. Kapan lagi aku melihat nilai matematika dan fisikaku      menjadi lumayan?</li>
<li>mengerjakan      beberapa proyek bersama teman, untuk proyek ini, maaf masih      dirahasiakan(namun yang jelas, masih menyangkut soal internet)</li>
<li>Menaikkan      stats semua aspek, baik agama, akademis, blogging, kemandirian,      kedewasaan, kesabaran, dan lain-lain</li>
<li>Mencari      istri baru. Mungkin sudah saatnya mewariskan sang istri lama, CPU intel      Pentium 4. mau diganti dengan netbook HP pavilion.</li>
</ol>
<p><strong><em>Sekarang aku telah dihadapkan pada sebuah pintu. Begitu jelas, begitu dekat. Detik demi detik, semakin dekat rasanya aku menyeret kaki ke arahnya. hmm&#8230; Pintu yang berwarna, banyak sekali warna, namun dengan corak yang berbeda dengan pintu sebelumnya. Sedikit lagi akan terbuka, sebuah pintu menuju era baru, &#8220;era 2010&#8243;.</em></strong></p>
<p>Mungkin hanya itu saja, dan buat semu teman-teman blogger, selamat tahun baru 2010!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: elegi sepucuk anggrek</title>
		<link>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read ya… Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannya… OK!! mari dimulai!!!
Elegi sepucuk anggrek
“Jangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!” Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan desember, bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 425px"><img src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/anggrek.jpg" alt="" width="415" height="536" /><p class="wp-caption-text">elegi sepucuk anggrek</p></div>
<p>Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read ya… Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannya… OK!! mari dimulai!!!</p>
<p><span id="more-429"></span>Elegi sepucuk anggrek</p>
<p>“Jangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!” Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan desember, bersama kita menyirami anggrek. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan di musim ini, mengingat hujan selalu menggelitik sore-sore temaram. Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini. Aku terlalu terpesona melihat kepiwaianmu akan merawat tanaman indah itu, namun tak begitu sering, sejak kau sibuk dengan pendaftaranmu kuliah ke luar negeri sana.</p>
<p>Sudah sejak kelulusan SMA kita dulu kau sudah membicarakan itu. Juga cita-cita kerenmu sebagai wartawan internasional itu. Begitu menggebu-gebu kau menceritakan padaku, bagaimana sebuah universitas sedang membuka peluang untuk murid dari luar negeri. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Ah sobat, cita-citamu begitu tinggi… walaupun aku takkan bisa sepertimu, aku akan berjuang untukmu.</p>
<p>Sekarang kau dan aku sudah berdiri disini. Pelabuhan yang disebut orang sebagai teluk bayur, gerbang laut dimana kau akan datang dan meninggalkan tanah minang. “kenapa kau yung? Kau sangat muram. Sudahkah engkau makan?”. Aku hanya diam. Kau tahu? Segantang besar makanan tak akan bisa mengusik lamunanku. Tidakkah engkau sadar, mungkin inilah menit-menit dimana aku bisa melihatmu sekaligus rambut lusuhmu itu, mungkin beberapa menit lagi adalah menit terakhir dimana kita bisa berjabat tangan. Tapi, mana mungkin kau sadar? Mungkin hanya sepenggal nyawamu yang masih disini, kehidupan barumu diluar sana mungkin telah merenggut sebagian besarnya.</p>
<p>“Hei lut, kapalmu itu agaknya sudah datang!” ucapku lantang. Sekelebat bayangan besar datang dari arah laut sana. detik demi detik, bayangan itu mendekat sejengkal demi sejengkal. Hingga akhirnya bisa kulihat jelas tulisan: K.M LAMBELU . inikah kapalmu itu? Perahu besi yang kau ceritakan padaku? Kendaraan besar yang akan membawamu ke satu dari tujuh samudera di bumi kita ini? Sang pembawamu saja sudah membuatku terkesan, Lutfi…</p>
<p>“Nah buyung, mungkin ini saatnya kita harus berpisah. Namun ingat! Kau tak mau kan? Sekian tahun persahabatan kita rela terpisahkan oleh sang kilometer? Selama kita masih bernaung di langit yang sama, tak kan sirna seutas tali yang menghubungkan kita, menghubungkan Padang dengan Oxford … “ begitu kesalnya aku, ketika aku hanya bisa menjawab dengan kesunyian….</p>
<p>***</p>
<p>Sudah beberapa tahun sejak kau ucapkan kata-kata indah itu di dermaga teluk bayur, sudah bertahun pula rasanya aku kehilangan seorang kakak. Aku terkadang masih geli membayangkan kita melangkahi waktu ketika umur masih sepertiga sekarang? Ketika kau bersikeras tetap memanggilku buyung? Sebuah panggilan yang diberikan amak untuk panggilan kesayangan. “apa bedanya kalau kau kupanggil buyung ataupun nama di akte kelahiranmu itu? Tak ada yung… yang jelas, nama itu mengarah pada dirimu!!” bantahmu ketika kusuruh memanggilku dengan nama yang seharusnya. “kalau memang hanya keluargamu yang boleh memanggilmu begitu, anggap saja aku ini kakakmu!!” jawabmu tiga detik setelah kukatakan bahwa hanya amak dan bapakku saja yang boleh memanggilku begitu. Namun, aku masih belum mengerti, kenapa kau melarangku memanggilmu “kakak”.</p>
<p>Aku tersadar ketika air menetes ke celana pendekku. Aku terlalu banyak menyirami anggrek putih ini, ketika tak ada lagi yang meneriakiku ketika aku terus melamun ketika menyiram tanaman. Ya, lutfi, bahkan disaat kau jauh, anggrek ini tetap kusirami…</p>
<p>***</p>
<p>Aku tak tahu, entah apa yang membawaku untuk mengecek emailku pagi ini. Akupun tak terkejut ketika kujumpai 216 unread message di inbox emailku. Aku memang jarang sekali mengeceknya, dan memang pesan yang datang bukanlah pesan yang teramat penting. Namun kulihat urutan teratas pesan-pesan itu. Ada alamat emailmu disana. Kubuka, dan kuamati. Setengah bagian surat hanyalah permintaan maafmu karena tak bisa pulang ketika liburan musim dingin kemarin. Namun ada yang menarik bola mata ini untuk melihat penutup surat:</p>
<blockquote><p><em>“</em><em><strong>Kau tahu kan? Bahwa hidup itu seperti jarum jam? Terkadang kau melihat jarumnya bergelayut di angka 12. namun beberapa waktu kemudian kau bisa saja melihatnya menusuk angka 6. terkadang kita bisa berada di tempat yang paling atas. Namun tak ada yang tahu, tinggal berapa waktu yang tersisa untuk kita terjun ke tempat yang lebih rendah. Namun bagiku, mencapai angka 12 mungkin bisa terbilag sangat sulit. Haha… akan kuusahakan agar aku tak kan jatuh ke angka 6. kau juga harus berusaha buyung!!</strong></em><em>”</em></p></blockquote>
<p>Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam menyerapi kata demi kata pada surat ini.</p>
<p>Beberapa hari terlewati, emailmu kuterima kembali:</p>
<blockquote><p><strong><em>“hai yung. Bagaimana kabarmu? Setelah suratku kemarin, sepertinya aku akan begitu dekat dengan angka 12. Kau tahu! Aku lulus dari universitasku!! Dan kemarin kuajukan pula lamaran pada sebuah media internasional, Al-jazeera. Mereka tertarik dengan esay jurnalistikku tentang kekejaman Israel di jalur ghaza. Dan sekarang aku sudah berpindah apartemen. Aparteman yang dulu sangat sempit, terlalu sempit untuk merayakan euphoria kelulusan ini. Haha… lagipula di tempat yang baru ada banyak sekali anggrek! Paling tidak anggrek ini akan bisa mengingatkanku pada orang yang sering betul kebanyakan menyiram anggrek. hahaha. Kabar selanjutnya akan kutelepon kau yung.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Aku tak hanya terdiam membaca surat ini, aku tertawa keras begitu selesai membacanya. Kau begitu nyaris, atau bahkan sudah mencapai angka 12 mu. Dan mungkin aku dan kau tidak akan merasa berjauhan lagi, mengingat kita sama-sama menyirami anggrek sekarang…</p>
<p>***</p>
<p>Ada yang tak beres hari ini lut, dadaku sesak. Ibuku bertanya, kujawab saja tak apa-apa. Memang, rasanya tak ada yang salah dengan tubuhku. Lagi-lagi ada saja yang membimbingku untuk mengecek email. Namun kali ini lain. Bukan surat darimu yang datang, namun dari teman satu apartemenmu.</p>
<p>Kubuka surat itu, rupanya surat itu telah dikirim ke banyak orang. Dan betapa lemasnya tubuhku membacanya, seakan ada tombak yang tak tampak menusuk ke dada. Sesak, sungguh sesak. Seakan tak percaya, kubaca lagi surat itu. Tak satupun susunan hurufnya yang berubah. Apakah ini kenyataan? Apakah seorang yang kujunjung, telah berakhir sampai disini? Apakah cita-cita itu tak sadar, bahwa kau telah begitu dekat dengannya?? Kubaca kembali huruf demi huruf. Tak satupun ada yang berubah, sangat beda dengan dadaku yang sesak, karena tangis dan teriakan ini hanya sebatas di rongga dada. Sungguh, tulisan itu benar-benar mebuatku tak sadar. Hanya sedikit pesan kecil:</p>
<blockquote><p><strong><em>had died, our friend, our brother, Lutfi ramadhan, in Catte st, Oxford, Oxfordshire, UK. gas poisoning on 16 December 2008</em></strong></p>
<p><em><strong>“Telah meninggal dunia, teman kita, saudara kita, Lutfi ramadhan, di Catte st, Oxford, Oxfordshire, Inggris. keracunan gas pada 16 Desember 2008</strong></em><strong> </strong></p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Seminggu sudah berita duka begitu mengguncangku dengan hebat. Aku hanya bisa mendoakanmu setiap malam. Terkadang aku berfikir, harskah kulanjutkan impianmu? Aku rasa kau pasti akan senang, ketika seorang sahabatmu menggapaikan cita-citamu. Mulai besok, aku akan berlatih untuk masuk ke sekolah jurnalistik.</p>
<p>Ada suatu hal yang kuharap akan membesarkan hatiku. Ketika eksistensi fisikmu tak bisa kupertahankan, kepingan jiwamu mungkin masih kusimpan, biarpun itu didalam duniaku. Bagiku, kau masih terus hidup, dalam indahnya sepucuk anggrek.</p>
<p>Semoga dari sana bisa kau dengar jelas, untaian-untaian elegiku…</p>
<p><strong>Padang</strong><strong>, 16 Desember 2009</strong></p>
<p><strong>Arif –aurora- rahman</strong></p>
<p><strong><a href="mailto:aurora@langittimur.com" target="_blank">aurora@langittimur.com</a></strong></p>
<p><a href="../" target="_blank"><strong>http://www.langittimur.com</strong></a></p>
<blockquote><p>hehehe…. bukan apa-apa, aku hanya ikut-ikutan. Ketika kulihat banyak juga teman-teman yang buat cerpen. Terfikir pula, mengapa tidak kubuat pula sebuah cerpen untuk mengingat hari wafatnya Soe hok gie. Tepat hari ini, 40 tahun yang lalu.Lutfi dan Gie, mereka berdua begitu sinergi. sama-sama mati muda, ketika ambisi sudah bersiap untuk digenggam.</p></blockquote>
<p>terima kasih bagi teman-teman semua yang dengan baik hatinya mengkritik dan memberikan tanggapan akan tulisan ini. namun, ternyata sesuatu bernama &#8220;kecerobohan juga ingin ikut punya andil dalam tulisan ini. dia membuat aku salah kaprah dalam backup database. sehingga postingan ini sekaligus dengan komentar dari teman-teman semua hilang tak berbekas. sekali lagi, terima kasih atas semua komentar, dan maaf atas kesalahanku dalam menghapusnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit coretan: ketika hati bertutur</title>
		<link>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 12:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[
Berlebihankah jika…
Kuucapkan namamu sebelum kuhirup sejuknya embun?

Berlebihankah, jika aku mengutuk malam, karena membuat harimu menjadi kelam?
Berlebihankah, jika kubentak badai, ketika membuat siangmu begitu gaduh?

Berlebihankah, jika kutunggu desember datang membawa hujan, hanya untuk melihatmu berdiri anggun dibawah payung?

Berlebihankah jika, kubermain dengan bayanganmu, ketika aku tak bisa melakukannya dengan dirimu yang nyata?

Berlebihankah, jika ambisiku menggebu, untuk menanam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<div id="attachment_417" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-417" title="desaturated-rose" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/desaturated-rose.jpg" alt="sebuah persembahan" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">sebuah persembahan</p></div>
<p align="center">Berlebihankah jika…</p>
<p align="center">Kuucapkan namamu sebelum kuhirup sejuknya embun?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika aku mengutuk malam, karena membuat harimu menjadi kelam?</p>
<p align="center"><span id="more-416"></span>Berlebihankah, jika kubentak badai, ketika membuat siangmu begitu gaduh?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika kutunggu desember datang membawa hujan, hanya untuk melihatmu berdiri anggun dibawah payung?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah jika, kubermain dengan bayanganmu, ketika aku tak bisa melakukannya dengan dirimu yang nyata?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika ambisiku menggebu, untuk menanam seribu mawar dipekaranganmu?</p>
<p align="center">
<p align="center">Tidak</p>
<p align="center">
<p align="center">Itu tidaklah berlebihan.</p>
<p align="center">
<p align="center">Hiruplah wangi mawar sehabis hujan</p>
<p align="center">
<p align="center">Ketika pelangi ikut tersenyum bersamamu</p>
<p align="center">
<p align="center">Karena sesungguhnya, akulah yang berdoa agar mereka tampak indah dipelupuk matamu</p>
<p align="center">
<p align="center">Atau berdirilah ditengah padang ilalang,</p>
<p align="center">
<p align="center">Biarkan angin sore melambaikan rambutmu,</p>
<p align="center">
<p align="center">Membelai kulit putihmu,</p>
<p align="center">
<p align="center">Merasuk ke sanubarimu.</p>
<p align="center">
<p align="center">Sungguh, lakukanlah.</p>
<p align="center">
<p align="center">Karena aku yakin, tuhan pun akan ikut tersenyum melihatmu&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Untuk seseorang, untuk sebuah titik, yang akan kugapai…</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Padang, 7 Desember 2009</strong></p>
<p><strong>Arif –aurora- rahman</strong></p>
<p><strong><a href="mailto:aurora@langittimur.com">aurora@langittimur.com</a></strong></p>
<p><a href="http://www.langittimur.com"><strong>http://www.langittimur.com</strong></a></p>
<blockquote><p>hehehe&#8230; heran? si arif berlagak sebagai seorang pujangga?? heh&#8230; bukan apa-apa&#8230; ini bukan dilandasi oleh apa, ini bukan ditulis karena dimabuk sang asmara, ini hanyalah coret-coret seseorang yang ingin ikut berkompetisi, dalam kompetisinya pak dhe cholik: <a href="http://abdulcholik.com/acara-unggulan/acara-unggulan-parade-puisi-cinta">parade puisi cinta</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tukang ojek itu begitu cerewet</title>
		<link>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 14:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[


hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!


Semua kejadian, apakah itu kejadian besar yang akan meluluhlantakkan semesta, ataupun hanya kejadian kecil seperti terketuknya pintu-pintu fikiran, tak akan bisa kita prediksi, bagaimanapun caranya.

Seperti saja, hari itu, matahari enggan bersolek di penggalahan, digantikan badai sejuta rintik, membuat semangat untuk ke sekolah semakin redup saja, sayup-sayup terdengar sang legenda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl id="attachment_373" class="wp-caption aligncenter" style="width: 348px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-full wp-image-373" title="ojek" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/ojek.jpg" alt="hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!" width="338" height="400" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: left;">Semua kejadian, apakah itu kejadian besar yang akan meluluhlantakkan semesta, ataupun hanya kejadian kecil seperti terketuknya pintu-pintu fikiran, tak akan bisa kita prediksi, bagaimanapun caranya.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-374"></span></p>
<p>Seperti saja, hari itu, matahari enggan bersolek di penggalahan, digantikan badai sejuta rintik, membuat semangat untuk ke sekolah semakin redup saja, sayup-sayup terdengar sang legenda chrisye bernyanyi badai pasti berlalu. Hei! Bahkan badai pun sekarang sudah bisa menstimulasi fatamorgana.</p>
<p>Siapa sangka, dengan keadaan seperti itu, dimana sudah pasti cuma segelintir orang dengan kepentingan yang teramat penting yang bisa keluar dan bersiap untuk kuyub. Siapa sangka dihari itu, ada sekeping pembelajaran tentang kehidupan, yang terlontar dari pita suara seseorang yang tak diduga&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Hari yang indah? Huh, mungkin orang yang berkata &#8220;indah&#8221; itu adalah orang yang punya pandangan berbeda dalam hal keindahan. Hari itu begitu buruk. Bukan hanya hujan, angin juga mengamuk. Atap aula sekolah juga terbuka, menghempas-hempas dengan  sebatang paku masih  menahannya pada badang aula. Seakan-akan bertepuk, mengiringi deru memekakkan sang angin.</p>
<p>Untungnya, matahari masih bernafsu untuk menampakkan diri. Bagus! Aku bisa keluar sekarang. Segeralah aku pergi ke taman bacaan, sekalian berkunjung ke rumah seorang teman .</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Semua urusan rampung! Hebat! Tanpa disinggung badai. Hari yang hebat,  dan sebelum cuaca mempermainkanku, akupun pulang dengan terburu-buru. Tiba-tiba terlintas sebuah ide nyeleneh: bagaimana kalau naik ojek saja? Lebih praktis, nyaman pula&#8230;</p>
<p>Jadilah, seorang bapak-bapak yang beruntung, dapat giliran untuk mengantarkanku. Mulanya tak apa-apa. Hingga dia melihat sebuah kios bensin eceran: -1 liter rp.5000- sosok yang semula kukira pendiam, seketika berubah menjadi seorang bapak-bapak pengobrol ulung:</p>
<blockquote><p>&#8220;kau tahu diak , zamanku dulu, kau bisa beli bensin dengan harga sepersepuluh dari harga sekarang&#8230; Aku juga heran. Begitu banyak penelitian, ilmuwan-ilmuwan hebat, mengapa tidak ada tercipta sebuah pengganti? Mengapa masih memakai bahan bakar kuno? Kau tahu diak? &#8220;.</p>
</blockquote>
<p>Hmm.. Bukan cuma cerewet, ini adalah ocehan tingkat tinggi! Bahkan dalam standar seorang tukang ojek. Bukan cuma obrolan picisan tentang harga-harga yang naik.<br />
Di sepanjang perjalanan kuhabiskan waktu dengan berfikir kagum. Hebat. Untuk kesan pertama, aku tahu bapak yang memboncengku bukanlah orang yang bodoh, bahkan dia masih sempat menganggap dirinya muda dengan memanggilku diak. Atau adik dalam bahasa indonesia.</p>
<p>Kekagumanku pun bertambah ketika aku melewati sebuah rumah yang atapnya terbakar sedikit, karena konslet pada kabel listriknya:</p>
<blockquote><p>&#8220;kau tahu diak? Ini karena hari hujan, jadi terbakar. Sebenarnya sih, untuk rumah berbahan batu bata, tak akan terbakar, namun bagi rumah tipe rumah gadang seperti ini, bisa fatal! Ini karena rumah gadang terbuat dari kayu! Dan rasanya semua rumah di indonesia ini seperti itu! Padahal sekarang semua keluarga harus ada barang elektroniknya&#8230; Bagiku nih ya, kalau kau ingin bersanding dengan teknologi, tinggalkan rumah adat!&#8221;</p>
</blockquote>
<p>Bukan cuma itu, dia juga banyak mengoceh tentang para pejuang-pejuang dulu, tentang perilaku masyarakat yang mulai liar, dan ocehan-ocehan berat lainnya yang sangat jarang dibicarakan tukang ojek .</p>
<p>Aku semakin yakin, bahwa orang ini adalah seorang sarjana yang tak jadi berkembang, namun tetap ada dengan semua kepiawaiannya tentang hidup dalam status seorang tukang ojek.</p>
<p>Hari berbadai, ternyata mengantarkanku pada suatu fakta, bahwa tukang ojek bukanlah tak mungkin menjadi tujuan sekeping pelajaran kehidupan yang menyebar ke seluruh penjuru&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>surat untuk hujan</title>
		<link>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 12:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Tik&#8230; Tik&#8230; Terkadang pelan&#8230; Namun tak perlu ditunggu untuk menyaksikan ibu-ibu mengangkat kain jemuran mereka dari pekarangan, tak peduli apakah itu masih basah atau telah kering&#8230;
Begitulah pemandangan yang kira-kira menjadi langganan tontonanku beberapa hari belakangan ini. Musim hujan telah datang, menggantikan hari-hari gersang penuh debu dengan sejuta suara dentingan kasar di atap sekolah&#8230;
Hujan, terkadang membuatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_364" class="wp-caption aligncenter" style="width: 445px"><img class="size-full wp-image-364" title="hujan" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/hujan.jpg" alt="selalu mengetuk genting rumahku" width="435" height="575" /><p class="wp-caption-text">selalu mengetuk genteng rumahku</p></div>
<p>Tik&#8230; Tik&#8230; Terkadang pelan&#8230; Namun tak perlu ditunggu untuk menyaksikan ibu-ibu mengangkat kain jemuran mereka dari pekarangan, tak peduli apakah itu masih basah atau telah kering&#8230;</p>
<p>Begitulah pemandangan yang kira-kira menjadi langganan tontonanku beberapa hari belakangan ini. Musim hujan telah datang, menggantikan hari-hari gersang penuh debu dengan sejuta suara dentingan kasar di atap sekolah&#8230;</p>
<p>Hujan, terkadang membuatku terseret pada beberapa masalah yang cukup membuatku panas dingin. Begitu banyak, sungguh banyak.</p>
<p><span id="more-363"></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: left;">Senin pagi, aku terbangun dengan susah payah, kau sedang menari diluar rumah dengan sejuta rintik beningmu, sejuk, membuat susah untuk bangun, Betapapun berdarah-darah aku mencobanya, terlalu sukar. Kesal, memang. Namun ada sedikit harapan, paling tidak dengan dirimu, upacara penaikan bendera akan dibatalkan hari ini, kakiku sakit akibat jatuh semalam. Namun, coba tebak! kau berhenti dengan seenaknya! dengan waktu yang betul-betul tak layak bagiku, berhentinya kau menari sama saja dengan memunculkan tunas masalah, membuat upacara tetap dilaksanakan dan membuat lapangan menjadi becek. <strong>Kau membuatku kesal!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa jam kemudian, didalam jam pelajaran, kau kembali turun, dengan tiupan sejukmu, dan bunyi denting-dentingan di atap kelasku, membuatku begitu mengantuk, begitu mengantuk hingga mendireksi penjelasan berbusa guru fisikaku tentang hubungan energi mekanik dengan gerak sirkural, menjadi dongeng indah pengantar tidur, membuat tak satupun pelajaran masuk ke kepalaku. <strong>Kau berhasil membuatku bersungut-sungut!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Pulang sekolah, kulanjutkan perjalanan ke warnet dekat sekolah, bermain DotA dengan teman-teman. Kau datang dengan seenaknya, juga membawa temanmu si petir itu dengan seenaknya pula. Berkali-kali tanganku tergelincir dari keyboard ketika kau merusuh dengan temanmu itu&#8230; Membuatku kaget setengah mati. <strong>Kau membuatku marah!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tidakkah cukup hari buruk yang telah kau buat menjadi semakin buruk ini? ah.. Kau tutup senin naas ini dengan guyuranmu yang begitu basah, membanjiri semua yang bisa kau banjiri. Membuat kepulanganku ke rumah untuk memejamkan mata sejenak, menjadi begitu kuyub. Biasanya kututup perjalanan dengan berjalan ke arah timur, dengan matahari merah dibelakangku, kau tukar dengan seenaknya dengan sore buruk penuh becek dan deretan gigil kedinginan. Ingin kuminta pada tuhan untuk menyuruhmu menunda kedatanganmu ini, namun itulah kebiasaan burukku, selalu mencoba menginterupsi tuhan atas apa yang dilakukanNya. <strong>Hujan, sungguh, kau membuatku begitu muak!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Namun begitu, ada saat-saat aku begitu ingin mengangkatmu sebagai sahabat. Ada waktu dimana kau menurunkan tetesan-tetesan sejukmu ketika aku begitu haus setelah bermain bola di lapangan. Ada kalanya kau nyenyakkan tidurku di malam hari yang sunyi, mendongeng dengan ketukan-ketukan diatas genteng, membuatku tertidur pulas. Pernah pula kau menemaniku makan siang di pekarangan, dengan aura dinginmu, membuat mie rebusku menjadi sepuluh kali lebih lezat&#8230; <strong>Untuk beberapa kali kesempatan, kau sering kurindukan</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ah, hujan, selama dia mau bersahabat denganku, aku tetap dan akan tetap menyukainya, semenyebalkan apapun dia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
