Debu itu tak kan mengganggu!!
Ada orang-orang yang sangat suka mengamati matahari, kemanapun dia pergi. Matahari pun seakan tak mau kalah, bersolek, berkawan dengan alam sekitar, membuat mata ini terbelalak, tak sanggup menampung keindahan-keindahan ini di kornea mata. Matahari memang begitu menawan, kita bisa terpana ketika ia terbit, terkadang kita mendelik ketika ia terik, namun jarang yang menikmati kala ia akan pergi.
Aku juga sepertinya adalah orang yang sangat senang memperhatikan bintang kuning itu, matahari bagiku seperti mempunyai rantai tak terlihat, menarik-narik leherku untuk menatapnya ketika ia akan pergi, seakan berkata: “hei! Lihatlah! Lihat keindahanku untuk terakhir kalinya hari ini!†ohh.. senja…
Namun akhirnya aku tak lagi bisa melihat senja begitu sering, sekarang bangunan sudah bertambah banyak, bertambah padat dan terus memadat. Beberapa ada yang tinggi menjulang, mengganggu pandangan. Aku sebenarnya tidak merasa terlalu risih, sampai akhirnya aku sadar: aku tak bisa melihat matahari terbenam lagi dari rumah.
Beberapa kali kusempatkan pulang ketika hari mulai sore dari sekolah, berharap bisa melihat matahari terbenam. Namun tak ada yang senikmat menikmati sunset dengan the hangat di tangan di teras rumah.
***
Akhir-akhir ini aku bertemu teman maya baru, si Tilla, anak Padang yang berdomisili di Padang, namun sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya. Dia menetap di suatu tempat yang sangat aku ingin untuk tinggal walaupun sehari: Indarung. Sentral industri semen yang mengIndonesia, Semen Padang. Tempat yang berdebu, namun seru.
Ada alasan kenapa aku sangat menginginkan untuk menetap walau sehari di Indarung, disana kita bisa melihat matahri terbenam FULL, tanpa ada yang menghalangi, matahari seakan terbenam bersih, walaupun hujan deras membanjiri seluruh kota Padang, Indarung memang terletak di ketinggian.
Aku pun cukup sering mendengar ocehan Tilla tentang sunset yang dilihatnya. Terkadang aku terkesan, namun juga kesal. Ahh… ingin sekali aku menginap disana, walaupun hanya untuk sekali senja. Tak peduli berapa kalipun Tilla mengingatkanku betapa benyaknya debu dari semen-semen disana.
Kau tahu kawan? Bagiku, sejauh senja jelas kutatap, debu itu tak kan mengganggu!!
22 Comments
Trackbacks/Pingbacks
- Foto yang Berbicara « the blings of my life - [...] Semakin terinspirasi dari tulisan komentar Uda Vizon, di tulisan Arif yang ini [...]


pertamax gan..
waw.. aku suka kata-kata
“Tempat yang berdebu, namun seru.”
bener banget itu rif..
sunset emang indah banget disini.
walaupun sekarang aku agak susah ngeliatnya.. heheh
tapi aku selalu menikmatinya
sunset dirumahku.. di gunung wkwkw
Kau tahu kawan? Bagiku, sejauh senja jelas kutatap, debu itu tak kan mengganggu!!
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
menatap keindahan yang telah lama terdambakan namun hanya menjadi angan sekian lama. Jangankan hanya debu yang menghalang…
Rindu liat matahari terbenam ya nak…!
klo rindu…. datang aja ketepi pantai…. nah.. disitu kamu bisa melihat keindahan sang surya dikala senja yang begitu menawan…!
silahkan melihat nak..!
malas kesana mbah… pulang sekolah saya sore… ongkos mahal pulak….
(tua mode on)
ouw… matahari itu tinggal di indarung rupanya? sejak kapan dia pindah ke situ…? hahaha…
Rif… keindahan itu ada di mana-mana. bila keindahan matahari tak dapat kau nikmati, temukanlah keindahan lainnya. alam ini sangat luas dan menyimpaan jutaan keindahan…
Matahari terbenam adalah fenomena alam yang jarang sekali kunikmati meski ingin. Terbentur kesempatan, terbentur dinding-dinding beton yang menjulang… Terbenam atau terbitnya matahari seperti sangat eksklusif buatku, sama seperti kamu.
Membaca komentar Uda Vizon, aku jadi tahu, kalau daripada terlalu fokus mencari sesuatu yang sulit dinikmati, kenapa tak mensyukuri yang ada dulu? Hmm… Menurutmu gimana?
aih… berbicara tentang senja aku jadi teringat hampir semua buku – buku yang ditulis oleh seno gumira ajidarma. penulis yang sangat mencintai senja sampai2 dia bikin puja puji kepada senja hampir disemua buku2nya. dia penggila senja.
sudah pernah baca satu bukunya ???
Matahari tenggelam memang indah ya. Sy juga selalu kagum. Tapi beberapa waktu yg lalu ketika pekerjaan di kantor memaksa sy keluar kantor ketika jarum pendek ada di angka 8, 9, atau bhkn 10, sy mendamba menikmati matahari sore. Ya, ‘hanya’ matahari sore dan bukan sunset yg indah itu. Lalu ketika pekerjaan sudah surut dan sy bisa pulang pkl. 4 sore, alangkah bahagianya sy karna sy masih bisa menikmati indahnya matahari sore yang menyusup di dedaunan, menyentuh kulit saya, lalu sembunyi di balik gedung itu hingga tak ternikmati keindahannya saat terbenam.
Sampai sekarang, ketika sy bisa menikmati matahari sore, sy sgt bahagia. Apalagi nti, stlh sampai rumah & matahari sdh tak terlihat, ada kawanan tonggeret yang menampilkan paduan suaranya, lalu malam hari saat mata tak jg terpejam ada bunyi jangkrik yg merdu yg bisa kunikmati. Wow..segalanya menjadi indah jika kita menganggapnya indah. Bahkan debu di indarung pun akan menjadi penambah keindahan tenggelamnya matahari jika kita menganggapnya begitu.
*komennya kepanjangan ya mas. Tentang yg beginian, keindahan alam, sy sll terkagum & byk komentar, hehe..maaf. Btw paragraf pertama sebelum kata jarang sepertinya kurang kata ‘tidak’ ya? Maaf kalo sy salah. Salam kenal..*
aku suka twilight…tasogare, karenanya blogku berwarna twilight express
dan meskipun aku tinggal di kota Tokyo, karena masih termasuk daerah pinggiran, masih bisa lihat senja dari apartemenku di lantai empat. Bahkan aku bisa melihat gunung Fuji di kala senja (dan pagi hari tentunya)
duuhh.
debu itu warna kehidupan di alam ya rief… ^^
ke Indarung, pengen lihat sunset atau ketemu Tilla?
Bundo sering banget nginap di Indarung, tapi ngga pernah kepikiran lihat sunsetnya. **kapan-kapan bundo coba lihat deh.
hehehe.. kalo kamu pengen cari bukunya. susah. pinjam aja ama si ipan
wah kalo ngomongin lihat matahari dan bintang saya jadi mikir, kok bintang di langit sekarang semakin susah terlihat ya….
matahari
gunung
semen padang
sanset
apa lagi keindahan dunia yang belum kulihat?
pasti banyak sekali
Nb: aku juga iri ama tilla
debu2 yg berterbangan terkena sinar matahari senja terlihat sangat indah
Matahari lah runtuah dek gampo rif hehehehe
KALIMAT TERAKHIR MU RIF….indah nian…banyak yang mengomentari tentang matahari nya, tapi yang jelas, kalau saya selalu menunggu kalimat kalimat indah arif….
Hahahahah sesuatu yang baru ya…hebat hebat hebat…
syapa blang debu itu tak mengganggu, kalo kita kena debu pasti perih di mata….
wkwkwkwk….
tapi saia suka kata2 nya …..
di indaruang banyak lapangan bola !!!
tapi yo banyak cik iduang kalo maen lamo2 di sinan..
Rif….di tempat tinggalku sekarang, sunset-nya indaaahhhh banget….matahari yang bulet jingga keperakan pelan2 ngilang di laut…kereeennn…. mantap deh…. *pameeerrrr….
catatan: kalau laut lagi waras ya, bukan sedang ujan badai..
pergi kerumah ane gan!
dirmah juga bisa liat sunset….dari atas rumah,,,,kerennnn!
Tolong bilang Tilla untk potoin itu sunset terus pajang disini.. penasaran Rif..
di padang, kalau mau lihat matahari terbenam, saya tinggal naik angkot ke taplaw.. pemandangannya spektakuler.
hahahaa. ya bnar tu rif, naik bus kampus gratiss..
hihihi.
aku menghabiskan masa kecil ku di indarung. komplek persemenan. bnyak debu memang tapi juga banyak pohon di sana.
sejuk dan tentram.
menyenangkan ! aku bisa berlari-lari di sana (halaman belakang rumah yg sangat luas) sampai lelah. akhh,, jujur pengen tinggal di sana lagi.
sayang hanya rumah pinjaman.
tapi di palimo nggak kalah seru, walaupung nggak setentram d sana.