Cerpen: elegi sepucuk anggrek

elegi sepucuk anggrek
Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read ya… Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannya… OK!! mari dimulai!!!
Elegi sepucuk anggrek
“Jangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!†Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan desember, bersama kita menyirami anggrek. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan di musim ini, mengingat hujan selalu menggelitik sore-sore temaram. Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini. Aku terlalu terpesona melihat kepiwaianmu akan merawat tanaman indah itu, namun tak begitu sering, sejak kau sibuk dengan pendaftaranmu kuliah ke luar negeri sana.
Sudah sejak kelulusan SMA kita dulu kau sudah membicarakan itu. Juga cita-cita kerenmu sebagai wartawan internasional itu. Begitu menggebu-gebu kau menceritakan padaku, bagaimana sebuah universitas sedang membuka peluang untuk murid dari luar negeri. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Ah sobat, cita-citamu begitu tinggi… walaupun aku takkan bisa sepertimu, aku akan berjuang untukmu.
Sekarang kau dan aku sudah berdiri disini. Pelabuhan yang disebut orang sebagai teluk bayur, gerbang laut dimana kau akan datang dan meninggalkan tanah minang. “kenapa kau yung? Kau sangat muram. Sudahkah engkau makan?â€. Aku hanya diam. Kau tahu? Segantang besar makanan tak akan bisa mengusik lamunanku. Tidakkah engkau sadar, mungkin inilah menit-menit dimana aku bisa melihatmu sekaligus rambut lusuhmu itu, mungkin beberapa menit lagi adalah menit terakhir dimana kita bisa berjabat tangan. Tapi, mana mungkin kau sadar? Mungkin hanya sepenggal nyawamu yang masih disini, kehidupan barumu diluar sana mungkin telah merenggut sebagian besarnya.
“Hei lut, kapalmu itu agaknya sudah datang!†ucapku lantang. Sekelebat bayangan besar datang dari arah laut sana. detik demi detik, bayangan itu mendekat sejengkal demi sejengkal. Hingga akhirnya bisa kulihat jelas tulisan: K.M LAMBELU . inikah kapalmu itu? Perahu besi yang kau ceritakan padaku? Kendaraan besar yang akan membawamu ke satu dari tujuh samudera di bumi kita ini? Sang pembawamu saja sudah membuatku terkesan, Lutfi…
“Nah buyung, mungkin ini saatnya kita harus berpisah. Namun ingat! Kau tak mau kan? Sekian tahun persahabatan kita rela terpisahkan oleh sang kilometer? Selama kita masih bernaung di langit yang sama, tak kan sirna seutas tali yang menghubungkan kita, menghubungkan Padang dengan Oxford … “ begitu kesalnya aku, ketika aku hanya bisa menjawab dengan kesunyian….
***
Sudah beberapa tahun sejak kau ucapkan kata-kata indah itu di dermaga teluk bayur, sudah bertahun pula rasanya aku kehilangan seorang kakak. Aku terkadang masih geli membayangkan kita melangkahi waktu ketika umur masih sepertiga sekarang? Ketika kau bersikeras tetap memanggilku buyung? Sebuah panggilan yang diberikan amak untuk panggilan kesayangan. “apa bedanya kalau kau kupanggil buyung ataupun nama di akte kelahiranmu itu? Tak ada yung… yang jelas, nama itu mengarah pada dirimu!!†bantahmu ketika kusuruh memanggilku dengan nama yang seharusnya. “kalau memang hanya keluargamu yang boleh memanggilmu begitu, anggap saja aku ini kakakmu!!†jawabmu tiga detik setelah kukatakan bahwa hanya amak dan bapakku saja yang boleh memanggilku begitu. Namun, aku masih belum mengerti, kenapa kau melarangku memanggilmu “kakakâ€.
Aku tersadar ketika air menetes ke celana pendekku. Aku terlalu banyak menyirami anggrek putih ini, ketika tak ada lagi yang meneriakiku ketika aku terus melamun ketika menyiram tanaman. Ya, lutfi, bahkan disaat kau jauh, anggrek ini tetap kusirami…
***
Aku tak tahu, entah apa yang membawaku untuk mengecek emailku pagi ini. Akupun tak terkejut ketika kujumpai 216 unread message di inbox emailku. Aku memang jarang sekali mengeceknya, dan memang pesan yang datang bukanlah pesan yang teramat penting. Namun kulihat urutan teratas pesan-pesan itu. Ada alamat emailmu disana. Kubuka, dan kuamati. Setengah bagian surat hanyalah permintaan maafmu karena tak bisa pulang ketika liburan musim dingin kemarin. Namun ada yang menarik bola mata ini untuk melihat penutup surat:
“Kau tahu kan? Bahwa hidup itu seperti jarum jam? Terkadang kau melihat jarumnya bergelayut di angka 12. namun beberapa waktu kemudian kau bisa saja melihatnya menusuk angka 6. terkadang kita bisa berada di tempat yang paling atas. Namun tak ada yang tahu, tinggal berapa waktu yang tersisa untuk kita terjun ke tempat yang lebih rendah. Namun bagiku, mencapai angka 12 mungkin bisa terbilag sangat sulit. Haha… akan kuusahakan agar aku tak kan jatuh ke angka 6. kau juga harus berusaha buyung!!â€
Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam menyerapi kata demi kata pada surat ini.
Beberapa hari terlewati, emailmu kuterima kembali:
“hai yung. Bagaimana kabarmu? Setelah suratku kemarin, sepertinya aku akan begitu dekat dengan angka 12. Kau tahu! Aku lulus dari universitasku!! Dan kemarin kuajukan pula lamaran pada sebuah media internasional, Al-jazeera. Mereka tertarik dengan esay jurnalistikku tentang kekejaman Israel di jalur ghaza. Dan sekarang aku sudah berpindah apartemen. Aparteman yang dulu sangat sempit, terlalu sempit untuk merayakan euphoria kelulusan ini. Haha… lagipula di tempat yang baru ada banyak sekali anggrek! Paling tidak anggrek ini akan bisa mengingatkanku pada orang yang sering betul kebanyakan menyiram anggrek. hahaha. Kabar selanjutnya akan kutelepon kau yung.â€
Aku tak hanya terdiam membaca surat ini, aku tertawa keras begitu selesai membacanya. Kau begitu nyaris, atau bahkan sudah mencapai angka 12 mu. Dan mungkin aku dan kau tidak akan merasa berjauhan lagi, mengingat kita sama-sama menyirami anggrek sekarang…
***
Ada yang tak beres hari ini lut, dadaku sesak. Ibuku bertanya, kujawab saja tak apa-apa. Memang, rasanya tak ada yang salah dengan tubuhku. Lagi-lagi ada saja yang membimbingku untuk mengecek email. Namun kali ini lain. Bukan surat darimu yang datang, namun dari teman satu apartemenmu.
Kubuka surat itu, rupanya surat itu telah dikirim ke banyak orang. Dan betapa lemasnya tubuhku membacanya, seakan ada tombak yang tak tampak menusuk ke dada. Sesak, sungguh sesak. Seakan tak percaya, kubaca lagi surat itu. Tak satupun susunan hurufnya yang berubah. Apakah ini kenyataan? Apakah seorang yang kujunjung, telah berakhir sampai disini? Apakah cita-cita itu tak sadar, bahwa kau telah begitu dekat dengannya?? Kubaca kembali huruf demi huruf. Tak satupun ada yang berubah, sangat beda dengan dadaku yang sesak, karena tangis dan teriakan ini hanya sebatas di rongga dada. Sungguh, tulisan itu benar-benar mebuatku tak sadar. Hanya sedikit pesan kecil:
had died, our friend, our brother, Lutfi ramadhan, in Catte st, Oxford, Oxfordshire, UK. gas poisoning on 16 December 2008
“Telah meninggal dunia, teman kita, saudara kita, Lutfi ramadhan, di Catte st, Oxford, Oxfordshire, Inggris. keracunan gas pada 16 Desember 2008
***
Seminggu sudah berita duka begitu mengguncangku dengan hebat. Aku hanya bisa mendoakanmu setiap malam. Terkadang aku berfikir, harskah kulanjutkan impianmu? Aku rasa kau pasti akan senang, ketika seorang sahabatmu menggapaikan cita-citamu. Mulai besok, aku akan berlatih untuk masuk ke sekolah jurnalistik.
Ada suatu hal yang kuharap akan membesarkan hatiku. Ketika eksistensi fisikmu tak bisa kupertahankan, kepingan jiwamu mungkin masih kusimpan, biarpun itu didalam duniaku. Bagiku, kau masih terus hidup, dalam indahnya sepucuk anggrek.
Semoga dari sana bisa kau dengar jelas, untaian-untaian elegiku…
Padang, 16 Desember 2009
Arif –aurora- rahman
hehehe…. bukan apa-apa, aku hanya ikut-ikutan. Ketika kulihat banyak juga teman-teman yang buat cerpen. Terfikir pula, mengapa tidak kubuat pula sebuah cerpen untuk mengingat hari wafatnya Soe hok gie. Tepat hari ini, 40 tahun yang lalu.Lutfi dan Gie, mereka berdua begitu sinergi. sama-sama mati muda, ketika ambisi sudah bersiap untuk digenggam.
terima kasih bagi teman-teman semua yang dengan baik hatinya mengkritik dan memberikan tanggapan akan tulisan ini. namun, ternyata sesuatu bernama “kecerobohan juga ingin ikut punya andil dalam tulisan ini. dia membuat aku salah kaprah dalam backup database. sehingga postingan ini sekaligus dengan komentar dari teman-teman semua hilang tak berbekas. sekali lagi, terima kasih atas semua komentar, dan maaf atas kesalahanku dalam menghapusnya.
8 Comments

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Cerpen yang lumayan bagus mengingatkan saya pada beberapa impian yang hingga kini tak kunjung tergapai.
Mungkinkah saya terlalu sedikit menyiram anggrek itu?.
Takutnya kalau terlalu berlebihan bisa menjadi kontradiktif.
Maaf komntrny bkan ttg postngn anda. Tp saya sudah membacanya. Dan menurt saya cerpenny MENARIK SEKALI..
Oy,saya mw tany, anda kan trgbung dlm komnts palanta, itu bagaimana carany??
Tolong kirim jawabannya ke gmail saya ya. . guspiantia1@gmail
:kucing_terharu:
Selamat anda mendapat tali asih dari BlogCamp.
Klik di : http://abdulcholik.com/penghargaan/tali-asih-peserta-tebak-tebakan
Silahkan kirim nama dan alamat lengkap untuk pengiriman tali asih.
Salam hangat dari Surabaya
lumayan jg dongengnyaa..
hahahhahahahaha…..
Cerpen yang terinspirasi oleh Gie? Apakah Lutfi ini benar-benar ada, Rif? Jika memang ya, meneruskan cita-citanya tentu sangat bagus, tetapi akan lebih bagus kalau cita-cita itu adalah cita-citamu juga.
anggreknya masih ada? semoga selalu berbunga sepanjang waktu …
cerpen ini mengambil seting ranah minang membuat diriku terkenang dengan seseorang. ohh
yuhuuuu…rief… ada hadiah istimewa tuk arief di blog kk, diambil yaaak..