<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eastern Sky Area &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://www.langittimur.com/category/uncategorized/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.langittimur.com</link>
	<description>Mencoba Menerka, Ke Langit Yang Mana Angin Akan Bermuara</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Apr 2010 21:27:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Cerpen: Lingkaran merah</title>
		<link>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 14:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[8 Juli 1986 Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu. *** Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_454" class="wp-caption aligncenter" style="width: 399px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg"><img class="size-full wp-image-454" title="mawar putih" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2010/01/mawar-putih.jpg" alt="" width="389" height="583" /></a><p class="wp-caption-text">Selamat jalan Rahmi</p></div>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan masih senantiasa bergemuruh meratapi genting di langit-langit rumah. Kegelapan masih betah bertahan di ruangan ini, seakan ingin menemaniku yang duduk sendiri di ruang tamu. Sudah seminggu lamanya hari-hari ini berguguran, terbenam dalam langkah-langkahku, sudah seminggu berlalu setelah kepergianmu.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-452"></span>***</p>
<p>Aku masih ingat hari-hari itu, dimana kita bersama membunuh waktu. Aku juga tidak melupakan hari bersejarah dimana kita bertemu, hari yang kelam, dimana gerimis mendera ditengah musim panas, ada yang salah dengan langit. Aku juga belum lupa ketika melihatmu menggigil kedinginan waktu itu. Air mataku mengalir, ketika kuingat saat kita berkenalan dan kupinjamkan sweaterku waktu itu. Saat itu, aku tahu, bahwa telah terukir lagi sebuah nama dalam memori batinku: Rahmi julia.</p>
<p>Kau tahu Rahmi, aku sangat merindukan hari-hari itu, dimana kepingan-kepingan hati kita sudah menyatu sedikit-demi-sedikit. Aku rindu berjalan berdua denganmu sepulang kuliah, aku rindu melewatkan minggu-minggu penuh kesibukan dengan kilauan senyummu, aku ingin merasakan kembali ketika kita berjalan, menghadap kerlingan matahari senja, yang kau balas dengan keindahanmu. Keindahanmu melebur dengan deburan ombak di pantai air manis ini, seakan semua keindahan ini adalah keindahan dari sisi dirimu yang lain,Â  nikmatilah ini Rahmi, tuhan melukiskannya untukmu.</p>
<p>Kau mulai menggeliat pelan masuk ke dalam kehidupanku sejak saat itu. Kau sejengkal-demi sejengkal telah terjun dalam usahaku mengait pencapaian-pencapaian hidup. Kau lebih dari sekedar pelita, Rahmi, kau tak akan tergantikan.</p>
<p>Masih ingatkah kau Rahmi? Saat-saat dimana kita menikmati senja sepulang kuliah? Derap langkah kita agaknya menggentarkan dunia, karena kulihat dunia menghening ketika kita berjalan beriringan, paling tidak, mungkin itu hanya ada dalam kepalaku. Aku masih bisa merapal-rapal kembali kata-kata manismu, seakan menstimulasi pikiranku agar bekerja lebih realistik, aku masih ingat senandung-senandung dari bibir tipismu itu, menambah satu jalan kehidupan lagi yang harus kutempuh: hidup selamanya denganmu.</p>
<p>Aku ingin menayangkan ulang memori dimana kita terikat pada suatu perjanjian, sebuah perjanjian sakral dimana hanya nyawa yang bisa mengirisnya. Aku bersyukur bisa menikahimu, kita telah banyak melewati waktu bersama, kita telah banyak mengail-ngail keindahan senja kedalam penglihatan kita. Kali ini aku ingin membalas senyum ramah sang fajar denganmu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Aku tahu Rahmi, kau bukanlah tipe wanita yang mempunyai impian yang rendah, kau jelas tak ingin menjadi istri yang biasa, aku tahu itu dari sorot matamu, yang seakan-akan memaki-maki diriku, mendelik marah, mengapa aku terus membuat sang pemilik mata itu berdiam diri di rumah. Atau dari ucapan-ucapan cerdasmu, yang seakan mengisyaratkan: â€œbang, aku ingin melanjutkan kuliahkuâ€. Atau dari sikapmu, membuatku merasa sangan sia-sia jika hidupmu hanya dihabiskan sebagai wanita yang biasa saja.</p>
<p>â€œbang, apakah aku boleh melanjutkan kuliahku?â€ di minggu pagi yang cerah, membuat secangkir teh hangat urung kuhirup.</p>
<p>â€œmengapa tidak? Kau tahu sayang? Aku sangat mendukung apapun yang rasanya bisa membuatmu menjadi lebih baikâ€ ya, aku sangat mengerti itu Rahmi&#8230;</p>
<p>â€œnamun apakah kau akan keberatan bang, jika aku akan mengambil pascasarjana di universitas indonesia?â€</p>
<p>â€œkebetulan sekali Rahmi, aku juga akan dipindah kerjakan ke jakarta, insya allah dalam waktu dekta kita akan pindah ke jakartaâ€</p>
<p>Aku bersumpah, sedetik setelah ucapan itu, alam semesta seakan ada dalam matamu Rahmi&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sudah tiga bulan, rasanya hidup di jakarta tidaklah ada masalah yang berarti, kau tetap menjalankan kuliahmu, dan aku pun terus berkelahi dengan pekerjaanku. Namun kau ingat Rahmi, kita tak pernah berniat melewatkan satu senja pun untuk kita tatapi keindahnnya. Kita tak pernah ingin mengacuhkan satu pagi pun tanpa membalas senyum sang fajar, hingga suatu hari mataku terpaku pada tinta merah yang kau goreskan pada kalender putih di ruang keluarga, kau lingkari, lalu kau tulis: 1 Juli 1985, ulang tahun pernikahan kita yang pertama.</p>
<p>â€œbang, alhamdulillah, kita telah melewati 360 hari paling rumit dalam hubungan rumah tangga, hari-hari yang berat, namun penuh oleh kesenangan yang membuai, semoga tahun-tahun kedepan keluarga kita semakin harmonis bang&#8230;â€</p>
<p>Ya, Rahmi, semoga.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Mulai lagi tertata deretan hari-hari panjang yang kita jejaki, sudah hampir 2 tahun pula asmara kita beruntai-untai dalam tirai rumah tangga. Ada saat-saat aku terkadang merindukanmu bergitu dalam, dan mungkin aku akan mengalaminya sekali lagi. Kau berencana pergi dengan keluargamu ke Kuala lumpur, Malaysia. Untuk menghadiri pesta pernikahan sepupumu. â€œbang, ayo, ikutlah. Kita akan mencoba melihat bagaimana senyum senja di kuala lumpur kan?â€ sayang, maaf, ajakanmu waktu itu kutolak, ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan, lain kali mungkin.</p>
<p>Namun sayang, aku tak sadar, bahwa kali itu mungkin adalah kali terakhir aku bisa mengecup wajah indahmu&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>8 Juli 1986</p>
<p>Hujan belum berhenti, masih setia menemaniku, kuletakkan selembar koran minggu lalu, tepat di sebelah kalender tahun lalu yang dilingkari tinta merah. Kalender yang bersebelahan dengan koran yang bertulisan:</p>
<blockquote><p><strong>Telah terjadi kecelakaan mobil di Kampung salak selatan, Kuala lumpu, Malaysia(1 Juli 1986). Hanya ada seorang korban, seorang wanita dari Sumatera barat, Indonesia. Bernama RAHMI JULIA.</strong></p></blockquote>
<p>Sungguh Rahmi, aku ingin melewatkan walaupun satu kali senja lagi bersamamu.</p>
<p>Arif â€“aurora- rahman</p>
<p><a href="mailto:aurora@langittimur.com">aurora@langittimur.com</a></p>
<p><a href="../../../../../">http://www.langittimur.com</a></p>
<p>weleh-weleh&#8230;. lama tak update, aku jadi ingin membuat cerpen lagi.. namun yang ini sumpah cuma cerpen iseng-isengan&#8230; bikin cerpen tentang pasangan suami istri, namun aku saja belum punya siapa-siapa untuk menjadi pasangan&#8230; jadi, mohon maaf para pambaca kalau feeling nya kurang dapat. Maklum, yang menulis belum punya pasangan&#8230; hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/lingkaran-merah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak-jejak yang tertata</title>
		<link>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik. Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman. Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_433" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg"><img class="size-full wp-image-433" title="taonbaru" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/taonbaru.jpg" alt="" width="500" height="454" /></a><p class="wp-caption-text">selamat tahun baru, mari rayakan, sekalipun di dunia maya</p></div>
<p><strong><em>Waktu bisa saja tiba-tiba menjelma sebagai sesuatu yang licik.</em></strong></p>
<p><strong><em>Membuai-buai fikiran hingga tak terasa bahwa kita telah terdampar di penghujung zaman.</em></strong></p>
<p>Hmm. Rasanya baru kemarin aku membakar ikan di tengah pekarangan bersama para tetangga, begadang semalam suntuk, mengacuhkan belaian angin malam, memelototi film the da vinci code, tidur ketika para binatang telah tidur jauh sebelumnya</p>
<p><span id="more-432"></span><strong><em>Namun terkadang dia bisa saja menjadi begitu lambat, bagai rantai tanpa pelumas. Kau bisa saja merasa telah mengarungi 1000 tahun kehidupan, ketika kau sadar bahwa kau hanya bergeming beberapa kedipan.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apa-apaan ini? Mengapa tahun 2011 begitu lama? Kapan aku bisa mengecap bangku pendidikan baru? Aku sudah hampir muak dengan Sekolah Menengah Atas dengan segala tetek bengeknya. Mungkin hal-hal yang menyenangkan datang mencoba untuk mengobati, namun itu tak cukup kuat dalam menawar semua keterbatasan ini.</p>
<p><strong><em>Sekarang kau seakan-akan tengah menghadapi senja pada suatu hari. Dia dan semua cahaya emasnya membelaimu, hingga terkantuk-katuk, kau boleh beristirahat sejanak, atau kau juga bisa merenungkan, apa yang telah kau kerjakan hari iniâ€¦</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku baru sadar, ternyata aku sudah di penghujung tahun. Tak ada yang begitu tercetak dalam pada memoriku ini, kecuali warna-warna yang disebut orang-orang sebagai kehidupan, yang terkadang merefleksikan warna abu-abu, namun di lain waktu bisa saja memamerkan warna-warni nya. Ahhâ€¦ inilah hidupâ€¦</p>
<p><strong><em>Tak perlu kau beruban untuk menunggu datangnya fajar, yang akan menepuk-nepuk pundakmu, menyuruhmu bangun, memikirkan strategi, apa saja yang kan kau hadapi seharian nanti. Jangan kau ulur terus, jangan lagi memantul-mantulkan waktu. Segera bangun dan bangun visimu pagi ini!!</em></strong></p>
<p>Setelah difikirkan, sekarang memang saatnya untuk membangun visi untuk tahun depan. Mungkin disini aku bisa membagi-bagikan visiku pada teman semua:</p>
<ol>
<li>Terus      menulis, agar makin baik, dan semakin membaik.</li>
<li>Agak      seriusan sekarang. Kapan lagi aku melihat nilai matematika dan fisikaku      menjadi lumayan?</li>
<li>mengerjakan      beberapa proyek bersama teman, untuk proyek ini, maaf masih      dirahasiakan(namun yang jelas, masih menyangkut soal internet)</li>
<li>Menaikkan      stats semua aspek, baik agama, akademis, blogging, kemandirian,      kedewasaan, kesabaran, dan lain-lain</li>
<li>Mencari      istri baru. Mungkin sudah saatnya mewariskan sang istri lama, CPU intel      Pentium 4. mau diganti dengan netbook HP pavilion.</li>
</ol>
<p><strong><em>Sekarang aku telah dihadapkan pada sebuah pintu. Begitu jelas, begitu dekat. Detik demi detik, semakin dekat rasanya aku menyeret kaki ke arahnya. hmm&#8230; Pintu yang berwarna, banyak sekali warna, namun dengan corak yang berbeda dengan pintu sebelumnya. Sedikit lagi akan terbuka, sebuah pintu menuju era baru, &#8220;era 2010&#8243;.</em></strong></p>
<p>Mungkin hanya itu saja, dan buat semu teman-teman blogger, selamat tahun baru 2010!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/jejak-jejak-yang-tertata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: elegi sepucuk anggrek</title>
		<link>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read yaâ€¦ Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannyaâ€¦ OK!! mari dimulai!!! Elegi sepucuk anggrek â€œJangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!â€ Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 425px"><img src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/anggrek.jpg" alt="" width="415" height="536" /><p class="wp-caption-text">elegi sepucuk anggrek</p></div>
<p>Sebelumnya, aku akan meminta pada para pembaca LT semua, ini adalah sebuah cerpen, so, jangan quick read yaâ€¦ Kalaupun tak ada waktu, silahkan di save dahulu. baru diberi kritik dan sarannyaâ€¦ OK!! mari dimulai!!!</p>
<p><span id="more-429"></span>Elegi sepucuk anggrek</p>
<p>â€œJangan buyung! Jangan terlalu banyak, kau bisa membunuhnya nanti!â€ Katamu setengah berteriak, di suatu sore terik di bulan desember, bersama kita menyirami anggrek. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan di musim ini, mengingat hujan selalu menggelitik sore-sore temaram. Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini. Aku terlalu terpesona melihat kepiwaianmu akan merawat tanaman indah itu, namun tak begitu sering, sejak kau sibuk dengan pendaftaranmu kuliah ke luar negeri sana.</p>
<p>Sudah sejak kelulusan SMA kita dulu kau sudah membicarakan itu. Juga cita-cita kerenmu sebagai wartawan internasional itu. Begitu menggebu-gebu kau menceritakan padaku, bagaimana sebuah universitas sedang membuka peluang untuk murid dari luar negeri. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Ah sobat, cita-citamu begitu tinggiâ€¦ walaupun aku takkan bisa sepertimu, aku akan berjuang untukmu.</p>
<p>Sekarang kau dan aku sudah berdiri disini. Pelabuhan yang disebut orang sebagai teluk bayur, gerbang laut dimana kau akan datang dan meninggalkan tanah minang. â€œkenapa kau yung? Kau sangat muram. Sudahkah engkau makan?â€. Aku hanya diam. Kau tahu? Segantang besar makanan tak akan bisa mengusik lamunanku. Tidakkah engkau sadar, mungkin inilah menit-menit dimana aku bisa melihatmu sekaligus rambut lusuhmu itu, mungkin beberapa menit lagi adalah menit terakhir dimana kita bisa berjabat tangan. Tapi, mana mungkin kau sadar? Mungkin hanya sepenggal nyawamu yang masih disini, kehidupan barumu diluar sana mungkin telah merenggut sebagian besarnya.</p>
<p>â€œHei lut, kapalmu itu agaknya sudah datang!â€ ucapku lantang. Sekelebat bayangan besar datang dari arah laut sana. detik demi detik, bayangan itu mendekat sejengkal demi sejengkal. Hingga akhirnya bisa kulihat jelas tulisan: K.M LAMBELU . inikah kapalmu itu? Perahu besi yang kau ceritakan padaku? Kendaraan besar yang akan membawamu ke satu dari tujuh samudera di bumi kita ini? Sang pembawamu saja sudah membuatku terkesan, Lutfiâ€¦</p>
<p>â€œNah buyung, mungkin ini saatnya kita harus berpisah. Namun ingat! Kau tak mau kan? Sekian tahun persahabatan kita rela terpisahkan oleh sang kilometer? Selama kita masih bernaung di langit yang sama, tak kan sirna seutas tali yang menghubungkan kita, menghubungkan Padang dengan Oxford â€¦ â€œ begitu kesalnya aku, ketika aku hanya bisa menjawab dengan kesunyianâ€¦.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah beberapa tahun sejak kau ucapkan kata-kata indah itu di dermaga teluk bayur, sudah bertahun pula rasanya aku kehilangan seorang kakak. Aku terkadang masih geli membayangkan kita melangkahi waktu ketika umur masih sepertiga sekarang? Ketika kau bersikeras tetap memanggilku buyung? Sebuah panggilan yang diberikan amak untuk panggilan kesayangan. â€œapa bedanya kalau kau kupanggil buyung ataupun nama di akte kelahiranmu itu? Tak ada yungâ€¦ yang jelas, nama itu mengarah pada dirimu!!â€ bantahmu ketika kusuruh memanggilku dengan nama yang seharusnya. â€œkalau memang hanya keluargamu yang boleh memanggilmu begitu, anggap saja aku ini kakakmu!!â€ jawabmu tiga detik setelah kukatakan bahwa hanya amak dan bapakku saja yang boleh memanggilku begitu. Namun, aku masih belum mengerti, kenapa kau melarangku memanggilmu â€œkakakâ€.</p>
<p>Aku tersadar ketika air menetes ke celana pendekku. Aku terlalu banyak menyirami anggrek putih ini, ketika tak ada lagi yang meneriakiku ketika aku terus melamun ketika menyiram tanaman. Ya, lutfi, bahkan disaat kau jauh, anggrek ini tetap kusiramiâ€¦</p>
<p>***</p>
<p>Aku tak tahu, entah apa yang membawaku untuk mengecek emailku pagi ini. Akupun tak terkejut ketika kujumpai 216 unread message di inbox emailku. Aku memang jarang sekali mengeceknya, dan memang pesan yang datang bukanlah pesan yang teramat penting. Namun kulihat urutan teratas pesan-pesan itu. Ada alamat emailmu disana. Kubuka, dan kuamati. Setengah bagian surat hanyalah permintaan maafmu karena tak bisa pulang ketika liburan musim dingin kemarin. Namun ada yang menarik bola mata ini untuk melihat penutup surat:</p>
<blockquote><p><em>â€œ</em><em><strong>Kau tahu kan? Bahwa hidup itu seperti jarum jam? Terkadang kau melihat jarumnya bergelayut di angka 12. namun beberapa waktu kemudian kau bisa saja melihatnya menusuk angka 6. terkadang kita bisa berada di tempat yang paling atas. Namun tak ada yang tahu, tinggal berapa waktu yang tersisa untuk kita terjun ke tempat yang lebih rendah. Namun bagiku, mencapai angka 12 mungkin bisa terbilag sangat sulit. Hahaâ€¦ akan kuusahakan agar aku tak kan jatuh ke angka 6. kau juga harus berusaha buyung!!</strong></em><em>â€</em></p></blockquote>
<p>Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam menyerapi kata demi kata pada surat ini.</p>
<p>Beberapa hari terlewati, emailmu kuterima kembali:</p>
<blockquote><p><strong><em>â€œhai yung. Bagaimana kabarmu? Setelah suratku kemarin, sepertinya aku akan begitu dekat dengan angka 12. Kau tahu! Aku lulus dari universitasku!! Dan kemarin kuajukan pula lamaran pada sebuah media internasional, Al-jazeera. Mereka tertarik dengan esay jurnalistikku tentang kekejaman Israel di jalur ghaza. Dan sekarang aku sudah berpindah apartemen. Aparteman yang dulu sangat sempit, terlalu sempit untuk merayakan euphoria kelulusan ini. Hahaâ€¦ lagipula di tempat yang baru ada banyak sekali anggrek! Paling tidak anggrek ini akan bisa mengingatkanku pada orang yang sering betul kebanyakan menyiram anggrek. hahaha. Kabar selanjutnya akan kutelepon kau yung.â€</em></strong></p></blockquote>
<p>Aku tak hanya terdiam membaca surat ini, aku tertawa keras begitu selesai membacanya. Kau begitu nyaris, atau bahkan sudah mencapai angka 12 mu. Dan mungkin aku dan kau tidak akan merasa berjauhan lagi, mengingat kita sama-sama menyirami anggrek sekarangâ€¦</p>
<p>***</p>
<p>Ada yang tak beres hari ini lut, dadaku sesak. Ibuku bertanya, kujawab saja tak apa-apa. Memang, rasanya tak ada yang salah dengan tubuhku. Lagi-lagi ada saja yang membimbingku untuk mengecek email. Namun kali ini lain. Bukan surat darimu yang datang, namun dari teman satu apartemenmu.</p>
<p>Kubuka surat itu, rupanya surat itu telah dikirim ke banyak orang. Dan betapa lemasnya tubuhku membacanya, seakan ada tombak yang tak tampak menusuk ke dada. Sesak, sungguh sesak. Seakan tak percaya, kubaca lagi surat itu. Tak satupun susunan hurufnya yang berubah. Apakah ini kenyataan? Apakah seorang yang kujunjung, telah berakhir sampai disini? Apakah cita-cita itu tak sadar, bahwa kau telah begitu dekat dengannya?? Kubaca kembali huruf demi huruf. Tak satupun ada yang berubah, sangat beda dengan dadaku yang sesak, karena tangis dan teriakan ini hanya sebatas di rongga dada. Sungguh, tulisan itu benar-benar mebuatku tak sadar. Hanya sedikit pesan kecil:</p>
<blockquote><p><strong><em>had died, our friend, our brother, Lutfi ramadhan, in Catte st, Oxford, Oxfordshire, UK. gas poisoning on 16 December 2008</em></strong></p>
<p><em><strong>â€œTelah meninggal dunia, teman kita, saudara kita, Lutfi ramadhan, di Catte st, Oxford, Oxfordshire, Inggris. keracunan gas pada 16 Desember 2008</strong></em><strong> </strong></p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Seminggu sudah berita duka begitu mengguncangku dengan hebat. Aku hanya bisa mendoakanmu setiap malam. Terkadang aku berfikir, harskah kulanjutkan impianmu? Aku rasa kau pasti akan senang, ketika seorang sahabatmu menggapaikan cita-citamu. Mulai besok, aku akan berlatih untuk masuk ke sekolah jurnalistik.</p>
<p>Ada suatu hal yang kuharap akan membesarkan hatiku. Ketika eksistensi fisikmu tak bisa kupertahankan, kepingan jiwamu mungkin masih kusimpan, biarpun itu didalam duniaku. Bagiku, kau masih terus hidup, dalam indahnya sepucuk anggrek.</p>
<p>Semoga dari sana bisa kau dengar jelas, untaian-untaian elegikuâ€¦</p>
<p><strong>Padang</strong><strong>, 16 Desember 2009</strong></p>
<p><strong>Arif â€“aurora- rahman</strong></p>
<p><strong><a href="mailto:aurora@langittimur.com" target="_blank">aurora@langittimur.com</a></strong></p>
<p><a href="../" target="_blank"><strong>http://www.langittimur.com</strong></a></p>
<blockquote><p>heheheâ€¦. bukan apa-apa, aku hanya ikut-ikutan. Ketika kulihat banyak juga teman-teman yang buat cerpen. Terfikir pula, mengapa tidak kubuat pula sebuah cerpen untuk mengingat hari wafatnya Soe hok gie. Tepat hari ini, 40 tahun yang lalu.Lutfi dan Gie, mereka berdua begitu sinergi. sama-sama mati muda, ketika ambisi sudah bersiap untuk digenggam.</p></blockquote>
<p>terima kasih bagi teman-teman semua yang dengan baik hatinya mengkritik dan memberikan tanggapan akan tulisan ini. namun, ternyata sesuatu bernama &#8220;kecerobohan juga ingin ikut punya andil dalam tulisan ini. dia membuat aku salah kaprah dalam backup database. sehingga postingan ini sekaligus dengan komentar dari teman-teman semua hilang tak berbekas. sekali lagi, terima kasih atas semua komentar, dan maaf atas kesalahanku dalam menghapusnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/cerpen-elegi-sepucuk-anggrek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit coretan: ketika hati bertutur</title>
		<link>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 12:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Berlebihankah jikaâ€¦ Kuucapkan namamu sebelum kuhirup sejuknya embun? Berlebihankah, jika aku mengutuk malam, karena membuat harimu menjadi kelam? Berlebihankah, jika kubentak badai, ketika membuat siangmu begitu gaduh? Berlebihankah, jika kutunggu desember datang membawa hujan, hanya untuk melihatmu berdiri anggun dibawah payung? Berlebihankah jika, kubermain dengan bayanganmu, ketika aku tak bisa melakukannya dengan dirimu yang nyata? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<div id="attachment_417" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-417" title="desaturated-rose" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/12/desaturated-rose.jpg" alt="sebuah persembahan" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">sebuah persembahan</p></div>
<p align="center">Berlebihankah jikaâ€¦</p>
<p align="center">Kuucapkan namamu sebelum kuhirup sejuknya embun?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika aku mengutuk malam, karena membuat harimu menjadi kelam?</p>
<p align="center"><span id="more-416"></span>Berlebihankah, jika kubentak badai, ketika membuat siangmu begitu gaduh?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika kutunggu desember datang membawa hujan, hanya untuk melihatmu berdiri anggun dibawah payung?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah jika, kubermain dengan bayanganmu, ketika aku tak bisa melakukannya dengan dirimu yang nyata?</p>
<p align="center">
<p align="center">Berlebihankah, jika ambisiku menggebu, untuk menanam seribu mawar dipekaranganmu?</p>
<p align="center">
<p align="center">Tidak</p>
<p align="center">
<p align="center">Itu tidaklah berlebihan.</p>
<p align="center">
<p align="center">Hiruplah wangi mawar sehabis hujan</p>
<p align="center">
<p align="center">Ketika pelangi ikut tersenyum bersamamu</p>
<p align="center">
<p align="center">Karena sesungguhnya, akulah yang berdoa agar mereka tampak indah dipelupuk matamu</p>
<p align="center">
<p align="center">Atau berdirilah ditengah padang ilalang,</p>
<p align="center">
<p align="center">Biarkan angin sore melambaikan rambutmu,</p>
<p align="center">
<p align="center">Membelai kulit putihmu,</p>
<p align="center">
<p align="center">Merasuk ke sanubarimu.</p>
<p align="center">
<p align="center">Sungguh, lakukanlah.</p>
<p align="center">
<p align="center">Karena aku yakin, tuhan pun akan ikut tersenyum melihatmu&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Untuk seseorang, untuk sebuah titik, yang akan kugapaiâ€¦</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Padang, 7 Desember 2009</strong></p>
<p><strong>Arif â€“aurora- rahman</strong></p>
<p><strong><a href="mailto:aurora@langittimur.com">aurora@langittimur.com</a></strong></p>
<p><a href="http://www.langittimur.com"><strong>http://www.langittimur.com</strong></a></p>
<blockquote><p>hehehe&#8230; heran? si arif berlagak sebagai seorang pujangga?? heh&#8230; bukan apa-apa&#8230; ini bukan dilandasi oleh apa, ini bukan ditulis karena dimabuk sang asmara, ini hanyalah coret-coret seseorang yang ingin ikut berkompetisi, dalam kompetisinya pak dhe cholik: <a href="http://abdulcholik.com/acara-unggulan/acara-unggulan-parade-puisi-cinta">parade puisi cinta</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/sedikit-coretan-ketika-hati-bertutur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tukang ojek itu begitu cerewet</title>
		<link>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 14:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat! Semua kejadian, apakah itu kejadian besar yang akan meluluhlantakkan semesta, ataupun hanya kejadian kecil seperti terketuknya pintu-pintu fikiran, tak akan bisa kita prediksi, bagaimanapun caranya. Seperti saja, hari itu, matahari enggan bersolek di penggalahan, digantikan badai sejuta rintik, membuat semangat untuk ke sekolah semakin redup saja, sayup-sayup terdengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl id="attachment_373" class="wp-caption aligncenter" style="width: 348px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-full wp-image-373" title="ojek" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/ojek.jpg" alt="hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!" width="338" height="400" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">hmmm.. beberapa dari mereka, ada yang hebat!</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: left;">Semua kejadian, apakah itu kejadian besar yang akan meluluhlantakkan semesta, ataupun hanya kejadian kecil seperti terketuknya pintu-pintu fikiran, tak akan bisa kita prediksi, bagaimanapun caranya.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-374"></span></p>
<p>Seperti saja, hari itu, matahari enggan bersolek di penggalahan, digantikan badai sejuta rintik, membuat semangat untuk ke sekolah semakin redup saja, sayup-sayup terdengar sang legenda chrisye bernyanyi badai pasti berlalu. Hei! Bahkan badai pun sekarang sudah bisa menstimulasi fatamorgana.</p>
<p>Siapa sangka, dengan keadaan seperti itu, dimana sudah pasti cuma segelintir orang dengan kepentingan yang teramat penting yang bisa keluar dan bersiap untuk kuyub. Siapa sangka dihari itu, ada sekeping pembelajaran tentang kehidupan, yang terlontar dari pita suara seseorang yang tak diduga&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Hari yang indah? Huh, mungkin orang yang berkata &#8220;indah&#8221; itu adalah orang yang punya pandangan berbeda dalam hal keindahan. Hari itu begitu buruk. Bukan hanya hujan, angin juga mengamuk. Atap aula sekolah juga terbuka, menghempas-hempas denganÂ  sebatang paku masihÂ  menahannya pada badang aula. Seakan-akan bertepuk, mengiringi deru memekakkan sang angin.</p>
<p>Untungnya, matahari masih bernafsu untuk menampakkan diri. Bagus! Aku bisa keluar sekarang. Segeralah aku pergi ke taman bacaan, sekalian berkunjung ke rumah seorang teman .</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Semua urusan rampung! Hebat! Tanpa disinggung badai. Hari yang hebat,Â  dan sebelum cuaca mempermainkanku, akupun pulang dengan terburu-buru. Tiba-tiba terlintas sebuah ide nyeleneh: bagaimana kalau naik ojek saja? Lebih praktis, nyaman pula&#8230;</p>
<p>Jadilah, seorang bapak-bapak yang beruntung, dapat giliran untuk mengantarkanku. Mulanya tak apa-apa. Hingga dia melihat sebuah kios bensin eceran: -1 liter rp.5000- sosok yang semula kukira pendiam, seketika berubah menjadi seorang bapak-bapak pengobrol ulung:</p>
<blockquote><p>&#8220;kau tahu diak , zamanku dulu, kau bisa beli bensin dengan harga sepersepuluh dari harga sekarang&#8230; Aku juga heran. Begitu banyak penelitian, ilmuwan-ilmuwan hebat, mengapa tidak ada tercipta sebuah pengganti? Mengapa masih memakai bahan bakar kuno? Kau tahu diak? &#8220;.</p>
</blockquote>
<p>Hmm.. Bukan cuma cerewet, ini adalah ocehan tingkat tinggi! Bahkan dalam standar seorang tukang ojek. Bukan cuma obrolan picisan tentang harga-harga yang naik.<br />
Di sepanjang perjalanan kuhabiskan waktu dengan berfikir kagum. Hebat. Untuk kesan pertama, aku tahu bapak yang memboncengku bukanlah orang yang bodoh, bahkan dia masih sempat menganggap dirinya muda dengan memanggilku diak. Atau adik dalam bahasa indonesia.</p>
<p>Kekagumanku pun bertambah ketika aku melewati sebuah rumah yang atapnya terbakar sedikit, karena konslet pada kabel listriknya:</p>
<blockquote><p>&#8220;kau tahu diak? Ini karena hari hujan, jadi terbakar. Sebenarnya sih, untuk rumah berbahan batu bata, tak akan terbakar, namun bagi rumah tipe rumah gadang seperti ini, bisa fatal! Ini karena rumah gadang terbuat dari kayu! Dan rasanya semua rumah di indonesia ini seperti itu! Padahal sekarang semua keluarga harus ada barang elektroniknya&#8230; Bagiku nih ya, kalau kau ingin bersanding dengan teknologi, tinggalkan rumah adat!&#8221;</p>
</blockquote>
<p>Bukan cuma itu, dia juga banyak mengoceh tentang para pejuang-pejuang dulu, tentang perilaku masyarakat yang mulai liar, dan ocehan-ocehan berat lainnya yang sangat jarang dibicarakan tukang ojek .</p>
<p>Aku semakin yakin, bahwa orang ini adalah seorang sarjana yang tak jadi berkembang, namun tetap ada dengan semua kepiawaiannya tentang hidup dalam status seorang tukang ojek.</p>
<p>Hari berbadai, ternyata mengantarkanku pada suatu fakta, bahwa tukang ojek bukanlah tak mungkin menjadi tujuan sekeping pelajaran kehidupan yang menyebar ke seluruh penjuru&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/tukang-ojek-itu-begitu-cerewet.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>surat untuk hujan</title>
		<link>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 12:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Tik&#8230; Tik&#8230; Terkadang pelan&#8230; Namun tak perlu ditunggu untuk menyaksikan ibu-ibu mengangkat kain jemuran mereka dari pekarangan, tak peduli apakah itu masih basah atau telah kering&#8230; Begitulah pemandangan yang kira-kira menjadi langganan tontonanku beberapa hari belakangan ini. Musim hujan telah datang, menggantikan hari-hari gersang penuh debu dengan sejuta suara dentingan kasar di atap sekolah&#8230; Hujan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_364" class="wp-caption aligncenter" style="width: 445px"><img class="size-full wp-image-364" title="hujan" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/hujan.jpg" alt="selalu mengetuk genting rumahku" width="435" height="575" /><p class="wp-caption-text">selalu mengetuk genteng rumahku</p></div>
<p>Tik&#8230; Tik&#8230; Terkadang pelan&#8230; Namun tak perlu ditunggu untuk menyaksikan ibu-ibu mengangkat kain jemuran mereka dari pekarangan, tak peduli apakah itu masih basah atau telah kering&#8230;</p>
<p>Begitulah pemandangan yang kira-kira menjadi langganan tontonanku beberapa hari belakangan ini. Musim hujan telah datang, menggantikan hari-hari gersang penuh debu dengan sejuta suara dentingan kasar di atap sekolah&#8230;</p>
<p>Hujan, terkadang membuatku terseret pada beberapa masalah yang cukup membuatku panas dingin. Begitu banyak, sungguh banyak.</p>
<p><span id="more-363"></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: left;">Senin pagi, aku terbangun dengan susah payah, kau sedang menari diluar rumah dengan sejuta rintik beningmu, sejuk, membuat susah untuk bangun, Betapapun berdarah-darah aku mencobanya, terlalu sukar. Kesal, memang. Namun ada sedikit harapan, paling tidak dengan dirimu, upacara penaikan bendera akan dibatalkan hari ini, kakiku sakit akibat jatuh semalam. Namun, coba tebak! kau berhenti dengan seenaknya! dengan waktu yang betul-betul tak layak bagiku, berhentinya kau menari sama saja dengan memunculkan tunas masalah, membuat upacara tetap dilaksanakan dan membuat lapangan menjadi becek. <strong>Kau membuatku kesal!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa jam kemudian, didalam jam pelajaran, kau kembali turun, dengan tiupan sejukmu, dan bunyi denting-dentingan di atap kelasku, membuatku begitu mengantuk, begitu mengantuk hingga mendireksi penjelasan berbusa guru fisikaku tentang hubungan energi mekanik dengan gerak sirkural, menjadi dongeng indah pengantar tidur, membuat tak satupun pelajaran masuk ke kepalaku. <strong>Kau berhasil membuatku bersungut-sungut!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Pulang sekolah, kulanjutkan perjalanan ke warnet dekat sekolah, bermain DotA dengan teman-teman. Kau datang dengan seenaknya, juga membawa temanmu si petir itu dengan seenaknya pula. Berkali-kali tanganku tergelincir dari keyboard ketika kau merusuh dengan temanmu itu&#8230; Membuatku kaget setengah mati. <strong>Kau membuatku marah!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tidakkah cukup hari buruk yang telah kau buat menjadi semakin buruk ini? ah.. Kau tutup senin naas ini dengan guyuranmu yang begitu basah, membanjiri semua yang bisa kau banjiri. Membuat kepulanganku ke rumah untuk memejamkan mata sejenak, menjadi begitu kuyub. Biasanya kututup perjalanan dengan berjalan ke arah timur, dengan matahari merah dibelakangku, kau tukar dengan seenaknya dengan sore buruk penuh becek dan deretan gigil kedinginan. Ingin kuminta pada tuhan untuk menyuruhmu menunda kedatanganmu ini, namun itulah kebiasaan burukku, selalu mencoba menginterupsi tuhan atas apa yang dilakukanNya. <strong>Hujan, sungguh, kau membuatku begitu muak!!</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Namun begitu, ada saat-saat aku begitu ingin mengangkatmu sebagai sahabat. Ada waktu dimana kau menurunkan tetesan-tetesan sejukmu ketika aku begitu haus setelah bermain bola di lapangan. Ada kalanya kau nyenyakkan tidurku di malam hari yang sunyi, mendongeng dengan ketukan-ketukan diatas genteng, membuatku tertidur pulas. Pernah pula kau menemaniku makan siang di pekarangan, dengan aura dinginmu, membuat mie rebusku menjadi sepuluh kali lebih lezat&#8230; <strong>Untuk beberapa kali kesempatan, kau sering kurindukan</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ah, hujan, selama dia mau bersahabat denganku, aku tetap dan akan tetap menyukainya, semenyebalkan apapun dia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/surat-untuk-hujan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kuacuhkan si cantik itu</title>
		<link>http://www.langittimur.com/kuacuhkan-si-cantik-itu.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/kuacuhkan-si-cantik-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 14:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Entah kejadian apa yang membuatku begitu kesal sore itu. Aku bahkan ragu tak ada satupun kejadian yang membuat diriku sekesal itu. Ini mungkin cuma pengaruh mood. Aku terlalu stress!! Ulangan harian dan tugas yang bertumpuk membuatku bagitu jenuh! sungguh jenuh sampai-sampai 3 tetes saus tomat yang tercecer ke bajuku bisa membuatku begitu marah. Ah, mengapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_355" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-355" title="anggrek" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/anggrek.jpg" alt="kuacuhkan dirimu.. maaf.." width="500" height="667" /><p class="wp-caption-text">kuacuhkan dirimu.. maaf..</p></div>
<p>Entah kejadian apa yang membuatku begitu kesal sore itu. Aku bahkan ragu tak ada satupun kejadian yang membuat diriku sekesal itu. Ini mungkin cuma pengaruh mood. Aku terlalu stress!!</p>
<p>Ulangan harian dan tugas yang bertumpuk membuatku bagitu jenuh! sungguh jenuh sampai-sampai 3 tetes saus tomat yang tercecer ke bajuku bisa membuatku begitu marah.</p>
<p>Ah, mengapa semua kesulitan ini membuatku kusut(terlebih lagi, ini nyaris harfiah)&#8230; Kuakui, aku tak cukup jenius untuk melalui semua ini cukup dengan sebuah senyum simpul. Bergunung-gunung ulangan, tugas, postest yang sayangnya harus kukerjakan semua, dan bukan untuk kudaki.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-345"></span>***</p>
<p>Sore itu hujan, begitu deras. Namun tak bisa menghilangkan hawa panas yang pekat ini. Tidak, aku bukan bicara tentang suhu yang panas, cuma diriku saja yang bisa merasakan panas itu. Pikiran kacau menancapakan akarnya ditubuhku dan membuatnya jadi ikut0ikutan kacau. Sungguh, hujan ini tak membantu sedikitpun. Seakan-akan hujan itu lenyap jadi uap ketika menyentuh tubuhku, atau beberapa tetes dari mereka masuk ke mataku. Ah, membuatku semakin muak saja.</p>
<p>Ingin kucari seseorang, yang akan mendengar semua ucapan yang terdengar dari mulutku, apakah keluhan, umpatan, ataupun jika hanya beberapa carut marut. Namun sekali lagi hujan ini membuat tak satupun orang mau keluar dari rumahnya.</p>
<p>Ingin kumohon kepada sang bima sakti untuk berhenti berputar sejenak, barang untuk mendengar keluh-kesahku saja, tapi apalah daya, menghentikan air yang jatuh saja aku tak kuasa. Jadilah kuayunkan saja kaki ini dengan naluri seadanya. Kuikuti kemaa dia melangkah, yang untungnya sampai juga pulang ke rumah tercinta.</p>
<p>Namun ternyata bayang-bayang persoalan itu muncul kembali. Aku panik. Kugelengkan kepalaku, berharap semua masalah keluar dari setiap lubang di kepala ini. Kulihat kearah jam 3&#8230;</p>
<p>Aih&#8230; Aku bersumpah merasakan galaksi terdiam. Seakan semuanya terbungkam dan ikut takjub bersamaku: Sebuah anggrek indah tak tahu darimana terpampang indah di teras rumahku. Anggrek siapakah gerangan? setelah adanya penyelidikan lebih lanjut, ternyata anggrek itu adalah pemberian dari teman sekantor bapakku. Dan yang membuatku terkejut adalah: Makhluk itu sudah 2 minggu ada disini tanpa aku menyadarinya. Hei? apakah selama ini aku menetap di rumah orang lain? hingga tak kusadari rumah bernomor 11c ini menjadi tempat tinggal bagi sepucuk makhluk baru? entahlah&#8230;</p>
<div id="attachment_356" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-356" title="anggrek!" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/11/anggrek1.jpg" alt="ooh... tidak.. mengapa aku tidak menyadarinya??" width="500" height="667" /><p class="wp-caption-text">ooh... tidak.. mengapa aku tidak menyadarinya??</p></div>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Kesibukan terkadang membuat kita lupa segalanya, baik itu kesibukan yang kita harapkan, atau kesibukan yang terkadang menyiksa fisik dan batin. Banyak manusia yang begitu larut dalam kesibukan, deadline itu, pertemuan ini, rapat disana, diskusi disini. Dan tak sedikit pula yang telah menyerah hanya karena tak bisa survive.</p>
<p style="text-align: left;">Ceritaku diatas hanyalah sebuah resiko kecil akan sebuah jalur kehidupan. Jalur yang disebut dengan akademis. Apalah jadinya sebuah sekolah tanpa adanya evaluasi. Namun ya, seperti yang sudah kukatakan, aku tak cukup jenius dalam menghadapi semua, seakan-akan aku bisa merampungkan semua dalam beberapa kali helaan nafas.</p>
<p style="text-align: left;">Namun ya, aku masih beruntung dengan hanya mengacuhkan sepucukÂ  makhluk indah di pekarangan.</p>
<p style="text-align: left;">Kau boleh saja cuek dengan sesuatu apapun yang tumbuh dan hidup di rumahmu, namun untuk sesuatu yang secantik ini??</p>
<p style="text-align: left;">
<blockquote>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">NB: Setelah beberapa kali dipanggil mbak, kak, om, bahkan tante, kuputuskan juga untuk mengisi halaman aboutku. Namun apalah daya, aku tak bisa menilai diri sendiri(tak bisa narsisi pula). Namun untunglah, ada seorang <a href="http://imoe.wordpress.com">sahabat</a> yang(mau-maunya) dengan baik hati membuatkan biografi singkatku&#8230; dan tulisan beliau bisa dilihat <a href="http://www.langittimur.com/siapa-di-balik-semua-ini/">disini</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/kuacuhkan-si-cantik-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawan, cita-citamu, sungguh&#8230;.</title>
		<link>http://www.langittimur.com/kawan-cita-citamu-sungguh.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/kawan-cita-citamu-sungguh.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 12:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak, coba beritahu ibuk cita-cita kalian!!.â€ Itulah yang sering diucapkan guruku ketika aku masih di taman kanak-kanak&#8230; Ajaibnya, pertanyaan pendek itu mengundang begitu banyak jawaban, ada yang mengatakan dia ingin jadi dokter, pilot, insinyur, polisi, dan beberapa pekerjaan lainnya. Banyak kumaksudkan disini, adalah banyak suara yang menjawab, frekwensi respon, bukan variasi dari jawaban. Kalau ditanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img title="kuli bangunan" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/10/tukang.JPG" alt="ah... kuli bangunan.. sebuah cita-citakah??" width="500" /><p class="wp-caption-text">ah... kuli bangunan.. sebuah cita-citakah??</p></div>
<p>Anak-anak, coba beritahu ibuk cita-cita kalian!!.â€ Itulah yang sering diucapkan guruku ketika aku masih di taman kanak-kanak&#8230; Ajaibnya, pertanyaan pendek itu mengundang begitu banyak jawaban, ada yang mengatakan dia ingin jadi dokter, pilot, insinyur, polisi, dan beberapa pekerjaan lainnya. Banyak kumaksudkan disini, adalah banyak suara yang menjawab, frekwensi respon, bukan variasi dari jawaban.</p>
<p><span id="more-336"></span></p>
<p>Kalau ditanya berapa macam cita-cita yang disebutkan, mungkin masih dapat dihitung dengan jari. Namanya juga anak TK, banyak yang menjawab dokter, polisi, dan lainnya, karena memang orang-orang dengan profesi itulah yang dekat dengan mereka. Mereka belum mengenal apa itu Web designer, Software programmer, dan pekerjaan dengan nama keren lainnya. Dan sampailah pertanyaan guru itu kepadaku: â€œArif, cita-citamu apa nak??â€ aku dengan kecewa menjawab: â€œtidak tau buk&#8230;â€.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bertahun-tahun setelah aku lulus dari TK, dan sampai sekarang aku masih belum begitu yakin kalau ditanya soal cita-cita. Terkadang ketika aku ditanya soal cita-cita, aku menjawab kalau aku ingin menjadi direktur, beberapa kesempatan kemudian aku ditanya, jawabanku malah jadi pengusaha.</p>
<p>Pernah pada suatu kali kesempatan, semua anggota kelasku diundang ke ruangan Bimbingan Konseling satu-persatu, untuk ditanya mengenai cita-cita, â€œuntuk urusan motivasiâ€, mereka bilang. Belum apa-apa, namaku sudah dipanggil, dipanggil menurut nomor absen ternyata. Sempat juga menyesal mengapa nama awalku berkepala â€œAâ€ , rasa grogi itu membuat sebuah penyesalan yang amat sangat, mengapa namaku bukan â€œZarif rahmanâ€ agar dipanggil pada bagian akhir.</p>
<p>Tibalah saat-saat mendebarkan itu, padahal sebanarnya sama saja, ruangan BK itu tetaplah ruangan BK sepeti yang sebelumnya, masih berupa ruangan nyaman dengan banyak sofa. Namun yang mebuat takut ini adalah, AKU PESIMIS TAKKAN BISA MENJAWAB PERTANYAAN MANAPUN!!, aku tak tahu pasti apa cita-citaku, apa tujuanku, seakan-akan hidup yang aku jalani ini adalah hidup orang lain: aku tak mengenal diri sendiri.</p>
<p>Akhirnya aku berfikir keras sebelum menjawab, cita-cita apakah yang akan kuutarakan?? aku begitu cemas, rasa cemas ini membuatku berfikir seakan-akan guru BK ku ini adalah guru super sangar, seolah-olah salah jawaban akan membuatnya mencekikku hingga lemas&#8230; Setelah berfikir berkali-kali, kujawab: &#8220;cita-cita saya jadi dokter bu&#8230;&#8221;</p>
<p>Ah, godaan apa ini yang membuatku mengatakan kalau cita-citaku menjadi dokter? tapi tak apalah, jadi dokter kan tidaklah buruk. Namun sesaat kemudian ruang BK itu seakan jadi saksi atas kegegabahanku yang memberikan informasi seenaknya. Mau apa seorang pemalas seperti aku ini jado dokter? kali terakhirpun kulihat nilai biologi ku adalah 6,5. Memang, ada saat-saat dimana nilai biologiku begitu memuaskan, namun itupun karena bisikan-bisikan tak jelas yang ternyata benar hasilnya. Apakah aku akan mengaharap akan ada bisik-bisikan ketika aku sedang mengoperasi orang???</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Gempa 30 September kemarin memang menyisakan banyak jejak, baik di fisik maupun di batin. komplek sekeliling sekolahku contohnya, ada rumah penduduk yang lantai 2 nya remuk, sehingga perlu dibangun kembali. jadi tak terhindar lagi, bunyi gergaji, gerinda, dan peralatan pertukangan dan perkulibangunanan lainnya. Namun itu tak kami anggap sebagai gangguan, malah menjadi semacam oasis. Ya, aktivitas para kuli bangunan itu menjadi sedikit penghibur dikala suntuk.Aku merasa biasa-biasa saja sebelum ada seorag teman yang membuat sebuah pernyataan yang eksentrik.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Rif, tau tidak, aku sangat ingin menjadi kuli bangunan itu.&#8221; Aih! apakah maksud anak ini?? apa-apaan ini? cita-cita itu lah yang tinggi dong. Aku sendiri sepenuhnya yakin kalau beberapa orang yang menggergaji kayu diluar sana pastinya tidak pernah bercita-cita sebagai seorang tukang.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ah sobat, kau tak mengerti, aku terpesona dengan seni mereka mnyusun bata itu, lalu asiknya mengangkat bata ke lantai 2 dengan katrol&#8230; atau merdunya suara gergaji waktu mereka memotong kayu itu kawan&#8230;&#8221; jawabnya bertubi-tubi atas protesku pada statement nya itu.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi apa boleh buat, mudah-mudahan saja cita-cita baginya seperti sebatang sabun, yang habis, biarlah habis dan akan digantinya dengan yang baru. ah, sobat, cita-citamu membuatku geli dan ragu, keraguan akan apakah aku dianggap berbohong jika kukatakan bahwa cita-citamu adalah cita-cita yang wajar&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">NB: ini OOT. Tulisan ini adalah tulisan terpanjang dalam sejarah <a href="http://www.langittimur.com">LT</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/kawan-cita-citamu-sungguh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ketika blogger sakit</title>
		<link>http://www.langittimur.com/ketika-blogger-sakit.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/ketika-blogger-sakit.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 15:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Masa remaja itu kuibaratkan sebagai pisau bermata dua, disatu sisi masa remaja membuat kita terlatih matang untuk meluncur ke hari dewasa, namun di satu sisi masa remaja telah mereduksi kemanjaan-kemanjaan masa kecil sampai titik terkecil. Tentu saja, rasa ingin dimanjakan bukanlah dosa, namun terkadang keberadaannya sangat kita inginkan. Bagaimana caranya merasakan kemanjaan itu lagi?? Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_325" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><img class="size-full wp-image-325" title="sakit" src="http://www.langittimur.com/wp-content/uploads/2009/10/sakit.jpg" alt="ketika blogger sakit" width="350" height="297" /><p class="wp-caption-text">ketika blogger sakit</p></div>
<p>Masa remaja itu kuibaratkan sebagai pisau bermata dua, disatu sisi masa remaja membuat kita terlatih matang untuk meluncur ke hari dewasa, namun di satu sisi masa remaja telah mereduksi kemanjaan-kemanjaan masa kecil sampai titik terkecil.</p>
<p><span id="more-324"></span>Tentu saja, rasa ingin dimanjakan bukanlah dosa, namun terkadang keberadaannya sangat kita inginkan. Bagaimana caranya merasakan kemanjaan itu lagi?? Aku mengharapkan datangnya sakit demi hal itu. Ya, anda tak salah dengar, aku memang mengatakan &#8220;sakit&#8221;, sesuatu yang lazimnya dijauhi orang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Ternyata aku memang ditakdirkan untuk bermanja-manja akhir-akhir ini, aku merasakan rasa penat bertubi-tubi di tubuh ini, dan itu terjadi di waktu jam pelajaran di sekolah. Tak ayal, rasa penat dan pusing yang membuatku kakuÂ  ini menjadi pusat perhatian bagi kawan-kawan di kelasku. Berani taruhan, salah satu dari mereka pasti ada yang berfikir &#8220;ini tak mungkin! tak mungkin, seorang anak yang biasanya lompat-lompat diatas meja, sekarang jadi pendiam begini&#8221; ya, rasa sakit ini memang membungkamku.</p>
<p style="text-align: left;">Akhirnya aku diizinkan pulang untuk beristirahat, hebat! beberapa menit saja, demam ini sudah menampakkan &#8220;kesaktiannya&#8221;. Bahkan guruku pun sedikit memanjakanku sekarang.</p>
<p style="text-align: left;">Setibanya di rumah, aku langsung terbaring di kamar, dan rasanya mustahil kalau aku demam, dan seluruh rumah tak sibuk olehku. Sifat bossyku jadi kumat mendadak. Semuanya jadi ingin kusuruh-suruh. Tak ada yang mengeluh, toh ini permintaan orang sakit.</p>
<p style="text-align: left;">Malamnya pun, aku di service dengan camilan berlimpah: wafer, pisang, teh hangat, jeruk, plus selimut tebal melapisi badan. Enak sekali, walaupun komputer jadi tak tersentuh olehku, membosankan, tapi diredam oleh kesenangan atas fasilitas dadakan ini.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan malam itupun tak bisa mengikis semua rasa manja ku, karena di pagi hari pun atmosfer yang khas itu menyapa seiring aku bangun dari tidur. Buktinya, aku biasa disapa begini kalau pagi-pagi:</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>&#8220;rif, cepat bangun!! udah siang ini&#8230;.&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align: left;">Malah sekarang berubah menjadi:</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>&#8220;eeeh&#8230; si arif sudah bangun&#8230;&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align: left;">Aahh&#8230; ingin rasanya sakit beberapa hari lagi, tapi ternyata jatah demamku hanya untuk beberapa jam saja. Maka dari itu, esok paginya aku sudah pergi ke sekolah seperti biasa, tapi dengan perasaan dan fikiran yang sudah di <em><strong>upgrade</strong></em> berkali-kali karena telah merasakan kembali perasaan yang lekang setelah bertahun-tahun yang lalu, dikarenakan masa remaja yang telah membonsai naluri kekanak-kanakan yang tak bisa dipungkiri dalam beberapa situasi, hal itu sangat dibutuhkan. Sakit yang datangnya sekali-sekali ini membuatku kembali ke umur tujuh tahun selama 15 jam.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk saat-saat seperti ini, rasanya aku benar-benar telah membuat sebuah mesin waktu untuk diriku sendiri&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/ketika-blogger-sakit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>buat temanku di dunia sana</title>
		<link>http://www.langittimur.com/buat-temanku-di-dunia-sana.html</link>
		<comments>http://www.langittimur.com/buat-temanku-di-dunia-sana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 05:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aurora</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.langittimur.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Hai La, nyamankah rasanya di dunia sana? Kuharap iya, toh cepat atau lambat akau akan jadi penghuni sana juga. Pertama kali aku dengar keberadaanmu di kelas, orang-orang memanggilmu dengan nama Ela, penasaran, kulihat daftar absen, tak ada seorang pun yang bernama Ela. kulihat di bajumu, tertulis Lailatul Jannah. Akhirnya kusimpulkan, mungkin kamu adalah fans berat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img title="white rose" src="http://ciedhe.files.wordpress.com/2009/06/mawar-putih.jpg" alt="selamat jalan kawan..." width="400" /><p class="wp-caption-text">selamat jalan kawan...</p></div>
<p>Hai La, nyamankah rasanya di dunia sana? Kuharap iya, toh cepat atau lambat akau akan jadi penghuni sana juga.</p>
<p><span id="more-319"></span>Pertama kali aku dengar keberadaanmu di kelas, orang-orang memanggilmu dengan nama Ela, penasaran, kulihat daftar absen, tak ada seorang pun yang bernama Ela. kulihat di bajumu, tertulis Lailatul Jannah. Akhirnya kusimpulkan, mungkin kamu adalah fans berat dari rihanna, yang sering berdendand riang &#8220;You can stand under my umbrella, ela&#8230; ela.. e&#8230; e&#8230;&#8221; &#8230; sebuah kesimpulan yang belum kutahu betul atau tidaknya sampai sekarang&#8230;</p>
<p>Tahukah kamu La? sekarang semua murid di kelas kita betul-betul kehilanganmu&#8230; semua keceriaan teredam dalam suasana suram belasungkawa.</p>
<p>Sekali lagi, kami kehilanganmu, sebuah kehilangan yang tak akan bisa dilaporkan ke pos polisi manapun, yang mana tak akan ada satupun dari mereka yang akan menemukanmu, atau setidaknya dirimu yang masih bisa berbicara, masih mampu mengajariku seluk-beluk analisa vektor, kamu yang masih sanggup mengajariku cara menentukan bentuk molekul berdasarkan teori pasangan elektron, dan semua seluk beluk yang tak pernah kupahami seorang diri.</p>
<p>Aku masih ingat akan hari-hari itu, dimana ada hari ketika aku harus mengulang kembali ujian Fisika ku, dan memang tak bisa kusangkal, angka-angka ku sangat buruk pada waktu itu, bahkan dibilang &#8220;agak jelek&#8221; pun mungkin merupakan sebuah pujian. Itu adalah hari-hari dimana orang-orang pemalas dan setipe denganku telah kambuh rasa panik nya, bahkan kami tak makan saking takutnya akan ujian kedua itu.</p>
<p>Tak ada yang terlalu peduli, mereka kebanyakan sibuk dengan urusan masing-masing, tapi kau tidak, dengan rela kau pinjamkan catatanmu yang sangat komplit itu pada kami, bahkan kau berkorban untuk mengajarkan semua yang kami tak paham.</p>
<p>Tapi tentu, hari-hari seperti itu tak akan datang lagi dalam kehidupanku kedepannya. Aku mengetahui itu setelah kuterima sebuah pesan singkat dari seorang teman:</p>
<blockquote><p>Telah meninggal dunia salah seorang teman kita, Lailatul jannah, ketika gempa sedang terjadi, dia tertimbun di gedung lembaga pembelajaran bahasa inggris, LBA-LIA.</p></blockquote>
<p>Membaca pesan itu, tubuhku menggigil, baru rasanya 2 jam yang lalu kau meminjamkan catatan Fisikamu untuk kubaca, tapi sekarang&#8230;Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â  Aku sempat sangat berharap bahwa berita itu bohong, atau semua ini hanya mimpi buruk, tapi nihil&#8230;</p>
<p>Perlu kukatakan, kau telah berhasil La, telah berhasil membuat kepergianmu, menjadi sebuah kehilangan yang cukup berarti&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.langittimur.com/buat-temanku-di-dunia-sana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
